• Bersama Peserta LK III Sulselbar dari Berbagai Cabang di Indonesia
  • Peserta LK II Bersama Kakanda Ir. H. Abd. Kahar Muzakkar (Anggota DPD RI)
  • Peserta LK II HMI Cab.Makassar Timur dari Berbagai Cabang diIndonesia
  • Peserta LK I Bersama Pengurus Komisariat Periode 2011-2012
  • Kohati HMI Cab. Makassar Timur Bersama Kakanda Akbar Tandjung
  • Peserta LK II HMI Cab. Makassar Timur Bersama Fadly Zon (Sekjen Partai Gerindra)
  • Kohati HMI Cab. Makassar Timur Bersama Fadly Zon (Sekjen Partai Gerindra)
  • Angkatan I HMI Kom. Stikes NHM Bersama Kanda Ryza Fardiansyah (Ketum HMI Cab. Makassar Timur Periode 2010-2011)
  • Peserta Gender Camp dari Berbagai Komisariat Sejajaran Makassar Timur yang diadakan di Ta'deang Maros
  • Peserta LK II HMI Cab.Makassar Timur dari Bersama Kakanda Akbar Tandjung

Sabtu, 06 Agustus 2011

Struktur Pengurus HmI Kom.Stikes Nani Hasanuddin


STRUKTUR PENGURUS
HMI KOMISARIAT STIKES NANI HASANUDDIN
PERIODE 1432-1433 H. 2010-2011 M



Pengurus Inti

Ketua Umum           : Syarifuddin,  AMK

Sekretaris Umum    : Sudirman, S.Kep

Bendahara               : Hasniati

Badan Pengurus Harian

Bidang Keuangan dan Perlengkapan         :  M.Taufik Wear

Bidang Pemberdayaan Perempuan            :  Junaidi Abbas

Bidang Pembinaan Anggota                       :  Ismail M

Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah  : Irmawansyah

Bidang Pemberdayaan Umat                      : Tanwir

Bidang Kekaryaan                                       : Muh. Imran Afandi

Bidang Administrasi & Kesekretariatan       : Hardin La Ramba

Bidang Perguruan Tinggi                            : Lutfy Muammar
Kemahasiswaan





Selengkapnya...

Selasa, 02 Agustus 2011

Deklarasi HmI Kom.Stikes Nani Hasanuddin Makassar


Bismillahirrahmanirrohim, Salam Buat Kawan-kawan semua.


Sesungguhnya yang menjadi landasan pengorbanan adalah niatan ikhlas untuk memberi. Yang menjadi landasan pergerakan adalah tekad yang membaja. Yang menjadi landasan semangat adalah jiwa yang menggelora. Serta yang menjadi landasan perjuangan adalah keinginan untuk memperbaiki kondisi. Dan itu semua, adalah karakter yang harus dimiliki seorang pemuda terutama kelompok intelektual yakni mahasiswa. Untuk itu, terimalah salam hangat dariku untuk kawan-kawan sekalian, Hidup Mahasiswa!!!

Berbicara sekilas mengenai sejarah perjuangan mahasiswa pada saat pra maupun pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, banyak sekali kiprah yang telah mereka torehkan dalam bentuk tinta emas pada lembaran perjalanan bangsa ini menuju bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Dengan menilik sejarah perjuangan mahasiswa pada masa lampau, maka idealnya secara moralitas mahasiswa harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka memiliki latar belakang sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah. Mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada siapa saja. Hal itu semata-mata karena mereka adalah kader-kader calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, yang memegang kendali negara di masa depan. Oleh karena itu mereka berhak untuk melakukan pengawasan terhadap pemerintah dan memberikan kritik atas setiap kebijakan yang dibuatnya. Sikap kritis itu merupakan wujud kepedulian mereka terhadap bangsa dan negaranya.
  
Namun ternyata yang selama ini kita lihat, realita tidaklah seindah yang kita bayangkan. Hal-hal itu sudah sangatlah jauh dari harapan!!!

Masih terlalu banyak mahasiswa yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu akan tanggung jawabnya sebagai pengemban amanah rakyat. Pandangan tersebut, tentunya berimplikasi pada posisi dan peran mahasiswa, sehingga eksistensi mahasiswa di mata masyarakat memudar. Bila hal ini dibiarkan berlanjut, bukan tidak mungkin perjuangan mahasiswa di masa mendatang tak lain hanyalah sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya, atau sekedar katak di dalam tempurung. Mahasiswa harus segera berbenah untuk menyolidkan dirinya, karena mahasiswa bukanlah milik segelintir orang yang peduli pada nasib bangsa, tapi lebih dari itu!!!

Segala sesuatu yang besar adalah dimulai dari yang kecil. Adalah sebuah omong kosong jika dalam tubuh mahasiswa sendiri belum solid tapi sudah berkeinginan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang lebih baik. Bangsa bukanlah hanya segelintir orang, tapi bangsa adalah terdiri dari banyak orang dengan beragam kondisi sosial dan budaya. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan mahasiswa adalah membenahi kondisi internal dalam dirinya, menyolidkan barisan, menyamakan visi, misi dan idealisme, serta menghimpun kekuatan. Baru setelah itu mereka dapat membuat impian untuk menjadikan bangsa menuju kehidupan yang lebih baik dan mewujudkannya dalam sebuah realita.


Gambar 01 : Bersama Kanda Andy Riza Fardyansyah (Ketum HmI Cabang Mak-Tim)



Untuk menjawab panggilan yang mulia itulah maka Sekelompok Mahasiswa dari STIKES Nani Hasanuddin Makassar Berani untuk membentuk dan memotori berdirinya "HMI Komisariat Persiapan STIKES Nani Hasanuddin Makassar" meskipun dengan jumlah yang amat sedikit, yakni 26 orang anggota kader HMI dari Cabang Makassar Timur...
  
Semoga dengan berdirinya HMI Komisariat Persiapan STIKES NHM mampu memberikan warna tersendiri dalam mewadahi keinginan kawan-kawan mahasiswa untuk menguatkan pemahaman akan wawasan kebangsaan dan dinamisasi politik kampus untuk bersiap mengusung organisasi mahasiswa di STIKES NHM yang kebih dinamis serta mengawal dinamisasi bangsa dalam bentuk gerakan yang berbasis moral dan intelektual.

Akhir kata, ijinkan saya untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu berdirinya HMI Komisariat Persiapan STIKES NHM...


1. Kepada Ketua Umum HMI Cab. Maktim, Kakanda Andi Riza Fardyansyah,
  
2. Kepada Karateker, Saudara Ushop dan Fian,
  
3. Kepada Ketua Bem STIKES NHM Periode 2010-2011, Saudara Andi Arman, Trima kasih atas
 bantuan dananya,

4. Kepada Ketua KAMMI Komsat STIKES NHM, Saudara Ruli Sukur, terima kasih jg atas bantuan dananya,
  
5. Kepada Ketua Demisioner HMI Komsat Kehutanan, Saudara Andi Didit haryadi syam,
  
6. kepada Ketua HMI Komsat PNUP
  
7. Kepada Master of Training, Saudara Munawar B. Sabana

8. Kepada Vice of Master, Saudara Muh. Shujahri AM
  
9. Kepada Ketua Panitia, walaupun panitianya cuman kita berdua, Saudara Syarifuddin, A.MKep.

10. Kepada KAder-kader yang tlah meluangkan waktunya menyelesaikan Bastra I

dan kepada seluruh pihak yang tak bisa saya sebutkan namanya satu persatu, Sungguh nama kalian terlalu indah untuk di ukir...

Billahi Taufiq Wal Hidayah, 
YAKIN USAHA SAMPAI, 
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...!!!


Selengkapnya...

Sabtu, 23 Juli 2011

Pamor dan Kepeloporan HMI

HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi mahasiswa ekstrauniversiter yang tertua di Indonesia dan mampu bertahan serta (pernah) memainkan perannya di atas panggung perjuangan umat dan bangsa, memang layak untuk dikenang. Peran dan kepeloporan yang pernah dimainkan HMI dan alumninya di masa lalu dapat dijadikan hikmah (makna yang dalam) yang tersimpan bagi bekal perjalanan di masa mendatang.


Kehadiran HMI sebagai organisasi mahasiswa yang didirikan almarhum Lafran Pane dan sahabat mahasiswanya di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 5 Februari 1947, merupakan organisasi mahasiswa yang dimaksudkan untuk berkhidmat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. HMI menjadi organisasi perjuangan-secara fisik sampai dengan yang bersifat politis dan ideologis-dan karena itu keberadaannya pun di tengah masyarakat harus selalu diperjuangkan.


Dalam perjalanan sejarahnya hingga awal Orde Baru, HMI memiliki sikap idealisme kepeloporan dan pamor yang cukup menonjol bagi bangsa. Ini tidak saja terbukti dari peran yang dimainkan secara organisatoris, tetapi juga keterlibatan puluhan kader HMI yang memiliki prestasi membanggakan. Fenomena HMI dulu sering membuat seseorang atau organisasi lain merasa iri karena keberhasilannya.


Ketika itu HMI memang benar-benar mempersiapkan kadernya dengan kedalaman dan pengalaman ilmu agama, selain keunggulan dalam prestasi akademik. Kader HMI, terutama di kampus excellent seperti UI, ITB, dan UGM, benar-benar mempersiapkan kadernya sebagai ulama yang berwawasan intelektual dan sekaligus menjadikannya intelektual yang berwawasan agama.


Menilik pandangan keagamaan dan sikap politik yang menyertai organisasi HMI itu, ada semacam benang merah yang terkandung dalam tubuh HMI. Selain independensinya, yang menurut Dr Idham Chalid, seorang tokoh NU dan perpolitikan Islam di Indonesia, disebut sebagai letak kekukuhan HMI yang tahan uji, juga kemampuan intelektualnya yang dengan cerdas dan kritis dapat menempatkan dirinya secara tepat. Walaupun harus berkali-kali diguncang-guncang, baik secara internal maupun eksternal, tetap bisa.


Adalah Victor Tanja, yang menulis disertasinya tentang HMI (HMI, Sejarah dan Kedudukannya di Tengah Gerakan-gerakan Muslim Pembaharuan di Indonesia), mungkin menjadi salah seorang yang melakukan studi mendalam tentang perjalanan panjang sejarah HMI. Ia dapat mengungkap secara lebih obyektif ihwal pergaulan HMI di atas panggung "keumatan" dan "kebangsaan", baik dalam perannya sebagai organisasi mahasiswa maupun sebagai kader dan pejuang umat Islam Indonesia.


Tidak berlebihan, jika Victor, antara lain, berkesimpulan bahwa untuk dapat memahami fenomena HMI secara tepat, perlu menelusuri latar belakang masa-masa awal sejarah gerakan Muslim pembaru dan hubungan antaragama di Indonesia.


Demikian pula dalam menapaki sejarahnya, harus dilihat jalinannya yang begitu sempurna dengan sejarah Indonesia modern, khususnya modern Islam di Indonesia. Termasuk juga dengan penafsiran, gagasan keagamaan, dan sikap politiknya dalam konteks pengukuhan Pancasila sebagai ideologi negara maupun asas bermasyarakat dan bernegara. Dalam hal ini, HMI telah membuktikan dirinya sebagai sebuah organisasi mahasiswa Muslim yang mampu menjawab tuntutan kebudayaan rakyat Indonesia yang memiliki gagasan keagamaan yang pluralistik.


HMI kini


Banyak tudingan yang mengatakan HMI tidak lagi mampu mengembangkan peran yang luas dan terbuka seiring dengan perkembangan dinamika kampus, berbangsa, dan bernegara. Eksistensinya kini dipertanyakan kembali dan dinilai tidak lebih sebagai organisasi pinggiran yang bergerak dengan cara samar-samar. HMI seolah gagal menciptakan apentura-apentura untuk dapat lolos dari jebakan birokrasi dan kekuasaan-melalui kepemimpinan Orde Baru-hingga kini.


Realitas ini cukup menyedihkan, khususnya bagi mereka yang pernah berkiprah dan memiliki romantisme dengan organisasi ekstrauniversiter terbesar itu. Masa kejayaan HMI yang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, tampaknya akan sulit terulang kembali. Bukan saja karena kekuatan HMI yang semakin surut, melainkan juga karena ia tidak lagi menjadi organisasi prestisius yang berprestasi. HMI kini secara bertahap menjadi sesuatu yang asing, bahkan di kalangan mahasiswa Islam sekalipun.


Banyak mahasiswa yang sekarang ini menjadi aktivis masjid kampus atau kelompok studi agama enggan bergabung dengan HMI, meskipun mereka memiliki tujuan perjuangan yang sama. Walaupun HMI pernah menjadi besar dan banyak alumninya menjadi "orang besar" dalam pemerintahan, namun latar belakang historis dan segala contoh yang baik dan buruk dari para pendahulunya tampak kurang menjadi pendorong bagi anggota HMI sekarang untuk memacu prestasinya. Hal ini memunculkan penilaian yang agak minus bahwa kader HMI lebih pintar berdebat, sementara dalam karya nyata "nol besar".


Kalau dulu banyak gagasan intelektual yang muncul dari para kadernya mewarnai pemikiran pembaruan Islam di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada era 1970-an ketika Nurcholish Madjid-sebagai salah satu contoh yang sangat menonjol ketika itu-melontarkan gagasan mengenai modernisasi dan sekularisasi pemikiran Islam, yang kemudian terkenal dengan ide "Islam Yes, Partai Islam No". Maka, boleh dikatakan bahwa HMI kini hanya memunculkan Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum PB HMI, yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU).


Tantangan zaman yang menjadi kecenderungan perkembangan global sekarang ini menuntut HMI sebagai organisasi kemahasiswaan untuk dapat membaca dan memantau ke arah mana kecenderungan itu berkembang. Dengan demikian, dapat secara tepat merumuskan antisipasi terhadap kecenderungan global tersebut, baik perkembangan makrostruktur politik maupun melalui mikrostruktur programnya.


Barangkali yang juga menjadi penting adalah bagaimana mempersiapkan organisasi HMI untuk selalu berpikir analitis, prediktif, dan visioner agar dapat berkiprah sesuai dinamika kekinian dan tantangan masa mendatang.


Tantangan ke depan


Tampaknya HMI harus mampu mendiskripsikan lagi perjalanan organisasinya untuk dapat meningkatkan keunggulan komparatif sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Tentu saja, SDM sebagai khazanah intelektual yang dimilikinya itu tidak akan dapat dikembangkan oleh HMI bila organisasi ini tercabut akarnya dari kampus sebagai basis kekuatan intelektualitasnya.


Dalam konteks ini, hemat kita, HMI sekarang harus berupaya keras merebut kembali tradisi intelektual yang pernah dimilikinya pada era 1960-an hingga awal 1970-an. Prinsip kembali ke kampus (back to campus) harus dipupuk melalui berbagai format aktivitas kemahasiswaan. Dalam hal ini orientasi kualitas harus dikedepankan daripada kuantitas.


Keberhasilan dalam perumusan kembali atau reorientasi tujuan jangka panjang organisasi HMI dapat terwujud jika HMI memiliki kemampuan dalam memahami, menguasai, dan mengarahkan potensi kekuatan yang selama ini pernah dimiliki HMI, yakni konsistensi-integralitas wawasan keislaman-kebangsaan, tradisi intelektual, dan independensinya.


Untuk mencapai tujuan besar yang dicita-citakan organisasi HMI, barangkali perlu dikaji kembali lebih jauh kemungkinan HMI dapat memosisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan nonformal, tempat menempa anggotanya menjadi insan akademis yang berkualitas di tengah umat dan bangsanya.


Dengan demikian, program kegiatan HMI tidak lagi masif, yang penuh dengan seremonial. Sebab, posisinya akan menjadi inner power atau kekuatan intelektual umat Islam. Dengan kata lain, HMI akan menjadi semacam pusat unggulan (center of excellence) dan bukan hanya merupakan centerpiece (perhiasan di tengah meja).


Dengan orientasi keislaman dan kekuatan intelektual, maka secara operatif akan lahir kader HMI yang dinamis, terbuka, dan demokratis, serta hanya tunduk pada kebenaran dari mana pun datangnya. Di sisi lain, semangat untuk mengimplementasikan fungsi kekhalifahan mengharuskan HMI bersifat inklusif dengan tetap mempertegas independensi organisasi.


Independensi HMI yang selama ini telah teruji keberadaannya dan semboyan juangnya sebagai "pemersatu umat dan bangsa" jangan sampai kendur. Artinya, meski harus menyatu dan menjadi salah satu faktor dalam membangun dinamika umat dan bangsa, jati diri dan wawasan keumatan serta kebangsaannya tidak larut dan terseret ke dalam "sektarianisme" baru.




Sumber : http://wwwani5bekti.blogspot.com/2009/05/hmi.html
Selengkapnya...

Rabu, 20 Juli 2011

Contact Person

Himpunan Mahasiswa Islam
Komisariat Stikes Nani Hasanuddin 
Makassar
Cabang Makassar Timur


Sekretariat :
Jln.Perintis Kemerdekaan VI (P.Hikmah)
Tamalanrea-Makassar
Sulawesi Selatan


Contact Person :
085824532453-098299270010


Email :
hmikom.stikesnhm@yahoo.co.id


facebook :
hmi Stikes Nani Hasanuddin


Blog :
hijauhitam65@blogspot.com



Selengkapnya...

Senin, 04 Juli 2011

Provocative Or Proactive

Assalamu Alaikum Wr.Wb


Salam Perjuangan . . .


Sebelumnya terima kasih atas tulisan yang anda muat beberapa hari yang lalu, tentunya kami dari “Hijau Hitam” menanggapi secara positif dan semoga menjadi bahan intropeksi untuk kami tentunya.Kami sepakat ketika anda menyatakan bahwa dalam gerakan kita sama bergerak dalam kemahasiswaan dan menginginkan pembaharuan tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa kami tidak sependapat dengan klaim yang anda tujukan kalau ternyata ‘Hijau Hitam” itu seperti jago bicara (retorikanya mantap), banyak menuntut (mega elo’na), tetapi tidak ada AKSInya (de’ na melo majjama), ada beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama :

Pemahaman anda tentang ‘Hijau Hitam” yang anda klaim jago bicara (retorikanya mantap), banyak menuntuk (mega elo’na), tetapi tidak ada AKSInya (de’ na melo majjama), tidak ada dalam benak dan hati kami.Kami juga tidak mengakui diri kami jago dalam beretorika intinya bagaimana kami meng_eksplor ilmu-ilmu yang kami miliki, karena apa gunanya ilmu ketika tidak dimanfaatkan/dikeluarkan.Menuntut ? Menuntut dalam hal apa ?, Kami terlahir dari rakyat dan sudah sewajarnya kami menuntut ketika hak-hak kami dirampas, perlu saudara ketahui “Hijau Hitam” bukan organisasi yang hanya menunggu perubahan tanpa disertai dengan perjuangan dari “Hujau Hitam” sendiri.Anda salah besar ketika anda mengatakan tidak ada aksi dari “Hijau Hitam”, organisasi mahasiswa islam pertama dan tertua di Indonesia adalah “Hijau Hitam” tentunya dalam sejarah pembaharuan bangsa sedikit banyak ‘Hijau Hitam” ikut andil dan tampil sebagai penggagas dan ikut bekerja untuk sebuah perubahan itu.Tentunya tidak perlu lagi kami menyebutkan satu persatu tokoh-tokoh hasil produksi dari “Hijau Hitam”itu sendiri.

Kami tidak pernah menganggap organisasi lain sebagai musuh atau rival kita melainkan sebagai saudara atau sahabat untuk mewujudkan satu tujuan yaitu perubahan untuk rakyat. Namun hal itu bukan berarti HmI menjadi organisasi politik, sebab HmI lahir sebagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan (ormas), yang menjadikan nila-nilai Islam sebagai landasan teologisnya, kampus sebagai wahana aktivitasnya, mahasiswa Islam sebagai anggotanya. Background kampus dan idealisme mahasiswa merupakan faktor penyebab HmI senantiasa berpartisipasi aktif dalam merespon problematika yang dihadapai umat dan bangsa, jadi wajar jika HmI tetap memainkan peran politiknya dalam kancah bangsa ini. Selain itu, argumentasi lain dikemukakan oleh Rusli karim dalam tulisannya; “Walaupun HmI bukan organisasi politik, tetapi ia peka dengan permasalahan politik. Bahkan kadang-kadang karena keterlibatannya yang sangat tinggi dalam aktivitas politik ia dituduh sebagai kelompok penekan (pressure group)”.


Singkat, seperti ini tanggapan dari kami dan tentunya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya juga jika ada kata/kalimat yang tidak sesuai dengan pemikiran dan pemahaman anda karena inilah kami penuh dengan rasionalitas dan ekspansitas untuk mewujudkan tujuan Hijau Hitam.

Yakin Usaha Sampai...

Wassalamu Alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh..
Selengkapnya...

Rabu, 15 Juni 2011

Jalan ketiga Pemikiran Islam HMI

Dalam dunia ke-HMI an, pembahasan tentang NDP ( Nilai Dasar Perjuangan) memang menjadi sebuah pembahasan “ wajib” yang mendasari cara berfikir,berbuat dan menjadi nilai ukur dalam mengembangkan pemikiran keislaman HMI di Indonesia. Dalam setiap proses kaderisasi, NDP menjadi salah satu titik tumpu pembahasan. Oleh karenanya, pembahasan tentang Nilai Dasar Perjuangan selalu saja di “ Upgrade” dalam setiap Kongres. Hal ini menunjukan bahwa NDP adalah pembahasan penting dalam menjawab tolak ukur  ber-Islamnya komunitas HMI.


Lahirnya HMI yang diprakarsai oleh Prof Drs. Lafran Pane setidaknya meninggalkan “ kado “ istimewa terhadap perjalanan bangsa ini, hal ini terbukti bahwa  HMI tetap menjadi salah satu lokomitif pergerakan dalam kemajuan bangsa. HMI juga telah banyak melahirkan tokoh-tokoh nasionalis dan Islamis. HMI juga melahirkan beragam pemikiran bernuansa kebangsaan, kesejahteraan, politik pergerakan, serta keislaman yang universal. oleh karenanya, dalam perjalanan ke-HMI an, lahirlah sosok Nurcholish Madjid yang juga pernah mendapat amanah menjadi Ketua Umum PB HMI selama 2 periode.


Kali ini, Azhari Akmal Tarigan ( Bang Akmal; sapaan akrabnya) menelurkan karya baru tentang ke-HMI an yang berjudul “ Jalan Tengah Pemikiran HMI; NDP dalam Peranan Liberalisme dan Pluralisme “ buku yang melihat secara lebih luas tentang perjalanan pemikiran HMI dalam bungkus NDP. Sebelumnya, Bang Akmal mengeluarkan buku yang bertajuk Islam Universal dan di-refresh dalam cetakan kedua dengan judul Islam Madzhab HMI. Konsistensi bang Akmal dalam menelurkan karya dalam ruang lingkup ke-HMI an seolah menjadikan sosok beliau dianggap seperti “ cak Nur kedua yang ada di Sumatera Utara “. Sebab, selain beraktivitas sebagai “ dosen HMI” yang wara-wiri keluar daerah antar kota antar provinsi demi menjadi dosen HMI, bang Akmal juga tetap berkarya demi kelangsungan perkembangan pemikiran ke-HMI an.
Buku yang terangkum dalam VI bab ini mengetengahkan wacana ke-HMi an dalam versi artikel-artikel. Bicara tentang spirit keislaman HMI, Kontekstualisasi NDP dalam perubahan social, kepemimpinan, melihat Islam Indonesia yang modern, serta isu-isu Islam aktual, seperti teroris dan lahirnya aliran-aliran baru dalam islam serta feminisme di Indonesia. Secara khusus, buku ini sangat menarik, sebab aktualisasi pembahasannya menyuguhkan tema-tema hangat dan sentral ke-tengah-tengah pembaca. Menariknya, dalam wacana ke-HMI an isu-isu aktual ini yang harus disikapi secara serius oleh kalangan HMi untuk melahirkan nilai-nilai dasar baru dalam perjuangan ke HMI an dan pemikiran keislaman HMI.


Semoga karya ini menjadi khazanah baru dalam perkembangan pemikiran ke-HMI an,perkembangan nilai-nilai spiritual orang-orang HMI.serta perkembangan  pluralisme pemikiran HMI yang mendukung wacana keislaman, kebangsaan dan kemoderenan yang kesemuanya bisa “ dikawinkan “ dalam nuansa keharmonisan religiusitas, berbangsa dan bertanah air.terlebih-lebih karya ini juga dapat menjadi setawar –sedingin buat kader-kder HMI yang haus akan karya-karya intelektual yang bernuansakan ke-HMI an dimana karya-karya seperti ini hampir tak pernah tumbuh lagi diladang intelektual HMI setelah wafatnya “professor HMI” Nurcholis Madjid. [Resensi: Iqbal Hanafi Hsb).
Selengkapnya...