• Bersama Peserta LK III Sulselbar dari Berbagai Cabang di Indonesia
  • Peserta LK II Bersama Kakanda Ir. H. Abd. Kahar Muzakkar (Anggota DPD RI)
  • Peserta LK II HMI Cab.Makassar Timur dari Berbagai Cabang diIndonesia
  • Peserta LK I Bersama Pengurus Komisariat Periode 2011-2012
  • Kohati HMI Cab. Makassar Timur Bersama Kakanda Akbar Tandjung
  • Peserta LK II HMI Cab. Makassar Timur Bersama Fadly Zon (Sekjen Partai Gerindra)
  • Kohati HMI Cab. Makassar Timur Bersama Fadly Zon (Sekjen Partai Gerindra)
  • Angkatan I HMI Kom. Stikes NHM Bersama Kanda Ryza Fardiansyah (Ketum HMI Cab. Makassar Timur Periode 2010-2011)
  • Peserta Gender Camp dari Berbagai Komisariat Sejajaran Makassar Timur yang diadakan di Ta'deang Maros
  • Peserta LK II HMI Cab.Makassar Timur dari Bersama Kakanda Akbar Tandjung

Jumat, 30 September 2011

Anas Urbaningrum dan Dugaan Korupsi Partai Demokrat

Tepat di akhir masa kepengurusan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum PB Himpunan Mahasiwa Islam (HMI) pada 1999, banyak mahasiswa Lampung secara sadar tertarik untuk menjadi kader HMI Cabang Bandar Lampung. Pada masa itu, sosok Anas menjadi primadona kader-kader muda HMI. Bukan hanya karena posisinya sebagai Ketua Umum PB HMI, tetapi juga berkat kemampuan retorikanya yang artikulatif plus kemampuan menulis yang mumpuni. Tidak salah jika akader-kader muda HMI kala itu menjadikan sosok Anas sebagai idola baru.

Anas Urbaningrum adalah Idola baru setelah berakhirnya generasi Nurcholish Madjid atau Cak Nur sebagai “perpustakaan berjalan” HMI. Pada awalnya semua menduga bahwa pilihan Anas pasca HMI adalah dunia akademik sebagai begawan kultural yang mencerahkan masyarakat dan menjadi cermin bagi elit politik untuk tetap berkhidmat di track yang benar, seperti apa yang dilakukan sosok Cak Nur semasa beliau hidup.

Ternyata kemudian Anas memilih menjadi seorang politisi. Partai Demokrat entah kenapa menjadi pelabuhan hati seorang Anas. Apakah pilihan ini adalah bagian dari upaya Anas menyebarkan benih-benih ideologi Nasionalis-Religius HMI atau ada pertimbangan yang lain, hanya Anas yang tahu.

Dugaan korupsi Partai Demokrat
BEBERAPA kasus dugaan korupsi yang akhir-akhir ini diduga menimpa kader Partai Demokrat perlu menjadi catatan dan tanggapan serius dari Anas. Sebab, ini soal reputasi dan citra partai. Sebagai ketua umum, Anas mesti segera mengambil tindakan konkret untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut. Jika tidak, dapat dipastikan hal ini akan berdampak terhadap loyalitas konstituen Demokrat yang selama ini mempunyai ekspektasi luar biasa bagi pemberantasan korupsi di negeri ini.

Persoalan ini hendaknya jangan dipandang remeh oleh Anas karena justru turning point kepemimpinan Anas akan diukur dari kasus kasus yang sifatnya internal seperti ini. Jika pada titik ini Anas berhasil mengatasi, maka publik akan menilai positif terhadap kematangan Anas sebagai kandidat pemimpin masa depan negeri ini. Namun bila sebaliknya, maka potensi konflik akan terus dipelihara dan dibiarkan begitu saja. Akibatnya, riak-riak ketidakpercyaan kader Demokrat terhadap kepemimpinan Anas akan mencuat.

Harus diakui Anas sebenarnya belum memiliki jam terbang yang cukup untuk memimpin partai besar, apalagi ini sebagai the rulling party (partai penguasa). Namun suka atau tidak suka, problem ini mesti segera dibenahi. Anas harus mulai bergerak menjadi leader dan bukan hanya sekedar konsolidator. Inilah sejatinya problem kepemimpinan Anas di Demokrat.

Pertemanan pribadi yang berubah menjadi pertemanan politik (Anas banyak membawa masuk rekan-rekan aktivis mahasiswa pada eranya menjadi pengurus inti Demokrat) pada satu sisi ibarat mata pisau yang bisa bermanfaat dan juga bisa membuat posisi Anas sekarat. Kecemburuan faksi tradisional dalam tubuh Demokrat terhadap koneksi baru harus Anas antisipasi. Jika tidak, hal ini lagi-lagi akan menjadi bomerang.
Kehadiran sosok Anas awalnya dianggap sebagai jalan tengah di antara kebuntuan Andi Malarangeng dan Marzuki Ali. Politik kompromistis terlihat kental sekali dalam terpilihnya Anas sebagai Ketua Umum Demokrat. Secara umum Anas mempunyai personalitas yang baik dan tingkat akseptabilitas di atas rata-rata pemimpin gaek politik Tanah Air, seperti Megawati (PDIP), Aburizal Bakrie (Golkar), atau bahkan sosok Prabowo (Gerindra) sekalipun. Sebuah jajak pendapat yang dilalkukan Survey Inspire beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa Anas dipandang publik sebagai figur potensial pemimpin masa depan Indonesia.
Namun, sekali lagi hal ini akan bergantung kepada kemampuan Anas mengatasi problem internal serta “serangan” eksternal terhadap eksistensi Demokrat, apalagi pada 2014 sosok SBY yang selama ini secara tradisional menjadi mesin politik Demokrat tidak akan maksimal lagi. Jadi, masa depan Demokrat pada tingkat tertentu bergantung kepada bagaimana Anas membumikan citra positif Demokrat dengan kemampuan kepemimpinan yang dimiliki oleh Anas itu sendiri.

Jika Anas gagal melakukan hal itu, maka Partai Demokrat akan tinggal nama besar, sebuah partai yang di masa depan hanya akan dikenang sebagai partai yang pernah berkuasa di Republik ini.

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik Universitas Lampung dan Direktur Lembaga Kajian Politik, Publik, dan Demokrasi KAHMI Lampung*. 
Sumber: Harian Pelita
Selengkapnya...

Sabtu, 06 Agustus 2011

Struktur Pengurus HmI Kom.Stikes Nani Hasanuddin


STRUKTUR PENGURUS
HMI KOMISARIAT STIKES NANI HASANUDDIN
PERIODE 1432-1433 H. 2010-2011 M



Pengurus Inti

Ketua Umum           : Syarifuddin,  AMK

Sekretaris Umum    : Sudirman, S.Kep

Bendahara               : Hasniati

Badan Pengurus Harian

Bidang Keuangan dan Perlengkapan         :  M.Taufik Wear

Bidang Pemberdayaan Perempuan            :  Junaidi Abbas

Bidang Pembinaan Anggota                       :  Ismail M

Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah  : Irmawansyah

Bidang Pemberdayaan Umat                      : Tanwir

Bidang Kekaryaan                                       : Muh. Imran Afandi

Bidang Administrasi & Kesekretariatan       : Hardin La Ramba

Bidang Perguruan Tinggi                            : Lutfy Muammar
Kemahasiswaan





Selengkapnya...

Selasa, 02 Agustus 2011

Deklarasi HmI Kom.Stikes Nani Hasanuddin Makassar


Bismillahirrahmanirrohim, Salam Buat Kawan-kawan semua.


Sesungguhnya yang menjadi landasan pengorbanan adalah niatan ikhlas untuk memberi. Yang menjadi landasan pergerakan adalah tekad yang membaja. Yang menjadi landasan semangat adalah jiwa yang menggelora. Serta yang menjadi landasan perjuangan adalah keinginan untuk memperbaiki kondisi. Dan itu semua, adalah karakter yang harus dimiliki seorang pemuda terutama kelompok intelektual yakni mahasiswa. Untuk itu, terimalah salam hangat dariku untuk kawan-kawan sekalian, Hidup Mahasiswa!!!

Berbicara sekilas mengenai sejarah perjuangan mahasiswa pada saat pra maupun pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, banyak sekali kiprah yang telah mereka torehkan dalam bentuk tinta emas pada lembaran perjalanan bangsa ini menuju bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Dengan menilik sejarah perjuangan mahasiswa pada masa lampau, maka idealnya secara moralitas mahasiswa harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka memiliki latar belakang sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah. Mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada siapa saja. Hal itu semata-mata karena mereka adalah kader-kader calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, yang memegang kendali negara di masa depan. Oleh karena itu mereka berhak untuk melakukan pengawasan terhadap pemerintah dan memberikan kritik atas setiap kebijakan yang dibuatnya. Sikap kritis itu merupakan wujud kepedulian mereka terhadap bangsa dan negaranya.
  
Namun ternyata yang selama ini kita lihat, realita tidaklah seindah yang kita bayangkan. Hal-hal itu sudah sangatlah jauh dari harapan!!!

Masih terlalu banyak mahasiswa yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu akan tanggung jawabnya sebagai pengemban amanah rakyat. Pandangan tersebut, tentunya berimplikasi pada posisi dan peran mahasiswa, sehingga eksistensi mahasiswa di mata masyarakat memudar. Bila hal ini dibiarkan berlanjut, bukan tidak mungkin perjuangan mahasiswa di masa mendatang tak lain hanyalah sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya, atau sekedar katak di dalam tempurung. Mahasiswa harus segera berbenah untuk menyolidkan dirinya, karena mahasiswa bukanlah milik segelintir orang yang peduli pada nasib bangsa, tapi lebih dari itu!!!

Segala sesuatu yang besar adalah dimulai dari yang kecil. Adalah sebuah omong kosong jika dalam tubuh mahasiswa sendiri belum solid tapi sudah berkeinginan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang lebih baik. Bangsa bukanlah hanya segelintir orang, tapi bangsa adalah terdiri dari banyak orang dengan beragam kondisi sosial dan budaya. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan mahasiswa adalah membenahi kondisi internal dalam dirinya, menyolidkan barisan, menyamakan visi, misi dan idealisme, serta menghimpun kekuatan. Baru setelah itu mereka dapat membuat impian untuk menjadikan bangsa menuju kehidupan yang lebih baik dan mewujudkannya dalam sebuah realita.


Gambar 01 : Bersama Kanda Andy Riza Fardyansyah (Ketum HmI Cabang Mak-Tim)



Untuk menjawab panggilan yang mulia itulah maka Sekelompok Mahasiswa dari STIKES Nani Hasanuddin Makassar Berani untuk membentuk dan memotori berdirinya "HMI Komisariat Persiapan STIKES Nani Hasanuddin Makassar" meskipun dengan jumlah yang amat sedikit, yakni 26 orang anggota kader HMI dari Cabang Makassar Timur...
  
Semoga dengan berdirinya HMI Komisariat Persiapan STIKES NHM mampu memberikan warna tersendiri dalam mewadahi keinginan kawan-kawan mahasiswa untuk menguatkan pemahaman akan wawasan kebangsaan dan dinamisasi politik kampus untuk bersiap mengusung organisasi mahasiswa di STIKES NHM yang kebih dinamis serta mengawal dinamisasi bangsa dalam bentuk gerakan yang berbasis moral dan intelektual.

Akhir kata, ijinkan saya untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu berdirinya HMI Komisariat Persiapan STIKES NHM...


1. Kepada Ketua Umum HMI Cab. Maktim, Kakanda Andi Riza Fardyansyah,
  
2. Kepada Karateker, Saudara Ushop dan Fian,
  
3. Kepada Ketua Bem STIKES NHM Periode 2010-2011, Saudara Andi Arman, Trima kasih atas
 bantuan dananya,

4. Kepada Ketua KAMMI Komsat STIKES NHM, Saudara Ruli Sukur, terima kasih jg atas bantuan dananya,
  
5. Kepada Ketua Demisioner HMI Komsat Kehutanan, Saudara Andi Didit haryadi syam,
  
6. kepada Ketua HMI Komsat PNUP
  
7. Kepada Master of Training, Saudara Munawar B. Sabana

8. Kepada Vice of Master, Saudara Muh. Shujahri AM
  
9. Kepada Ketua Panitia, walaupun panitianya cuman kita berdua, Saudara Syarifuddin, A.MKep.

10. Kepada KAder-kader yang tlah meluangkan waktunya menyelesaikan Bastra I

dan kepada seluruh pihak yang tak bisa saya sebutkan namanya satu persatu, Sungguh nama kalian terlalu indah untuk di ukir...

Billahi Taufiq Wal Hidayah, 
YAKIN USAHA SAMPAI, 
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...!!!


Selengkapnya...

Sabtu, 23 Juli 2011

Pamor dan Kepeloporan HMI

HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi mahasiswa ekstrauniversiter yang tertua di Indonesia dan mampu bertahan serta (pernah) memainkan perannya di atas panggung perjuangan umat dan bangsa, memang layak untuk dikenang. Peran dan kepeloporan yang pernah dimainkan HMI dan alumninya di masa lalu dapat dijadikan hikmah (makna yang dalam) yang tersimpan bagi bekal perjalanan di masa mendatang.


Kehadiran HMI sebagai organisasi mahasiswa yang didirikan almarhum Lafran Pane dan sahabat mahasiswanya di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 5 Februari 1947, merupakan organisasi mahasiswa yang dimaksudkan untuk berkhidmat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. HMI menjadi organisasi perjuangan-secara fisik sampai dengan yang bersifat politis dan ideologis-dan karena itu keberadaannya pun di tengah masyarakat harus selalu diperjuangkan.


Dalam perjalanan sejarahnya hingga awal Orde Baru, HMI memiliki sikap idealisme kepeloporan dan pamor yang cukup menonjol bagi bangsa. Ini tidak saja terbukti dari peran yang dimainkan secara organisatoris, tetapi juga keterlibatan puluhan kader HMI yang memiliki prestasi membanggakan. Fenomena HMI dulu sering membuat seseorang atau organisasi lain merasa iri karena keberhasilannya.


Ketika itu HMI memang benar-benar mempersiapkan kadernya dengan kedalaman dan pengalaman ilmu agama, selain keunggulan dalam prestasi akademik. Kader HMI, terutama di kampus excellent seperti UI, ITB, dan UGM, benar-benar mempersiapkan kadernya sebagai ulama yang berwawasan intelektual dan sekaligus menjadikannya intelektual yang berwawasan agama.


Menilik pandangan keagamaan dan sikap politik yang menyertai organisasi HMI itu, ada semacam benang merah yang terkandung dalam tubuh HMI. Selain independensinya, yang menurut Dr Idham Chalid, seorang tokoh NU dan perpolitikan Islam di Indonesia, disebut sebagai letak kekukuhan HMI yang tahan uji, juga kemampuan intelektualnya yang dengan cerdas dan kritis dapat menempatkan dirinya secara tepat. Walaupun harus berkali-kali diguncang-guncang, baik secara internal maupun eksternal, tetap bisa.


Adalah Victor Tanja, yang menulis disertasinya tentang HMI (HMI, Sejarah dan Kedudukannya di Tengah Gerakan-gerakan Muslim Pembaharuan di Indonesia), mungkin menjadi salah seorang yang melakukan studi mendalam tentang perjalanan panjang sejarah HMI. Ia dapat mengungkap secara lebih obyektif ihwal pergaulan HMI di atas panggung "keumatan" dan "kebangsaan", baik dalam perannya sebagai organisasi mahasiswa maupun sebagai kader dan pejuang umat Islam Indonesia.


Tidak berlebihan, jika Victor, antara lain, berkesimpulan bahwa untuk dapat memahami fenomena HMI secara tepat, perlu menelusuri latar belakang masa-masa awal sejarah gerakan Muslim pembaru dan hubungan antaragama di Indonesia.


Demikian pula dalam menapaki sejarahnya, harus dilihat jalinannya yang begitu sempurna dengan sejarah Indonesia modern, khususnya modern Islam di Indonesia. Termasuk juga dengan penafsiran, gagasan keagamaan, dan sikap politiknya dalam konteks pengukuhan Pancasila sebagai ideologi negara maupun asas bermasyarakat dan bernegara. Dalam hal ini, HMI telah membuktikan dirinya sebagai sebuah organisasi mahasiswa Muslim yang mampu menjawab tuntutan kebudayaan rakyat Indonesia yang memiliki gagasan keagamaan yang pluralistik.


HMI kini


Banyak tudingan yang mengatakan HMI tidak lagi mampu mengembangkan peran yang luas dan terbuka seiring dengan perkembangan dinamika kampus, berbangsa, dan bernegara. Eksistensinya kini dipertanyakan kembali dan dinilai tidak lebih sebagai organisasi pinggiran yang bergerak dengan cara samar-samar. HMI seolah gagal menciptakan apentura-apentura untuk dapat lolos dari jebakan birokrasi dan kekuasaan-melalui kepemimpinan Orde Baru-hingga kini.


Realitas ini cukup menyedihkan, khususnya bagi mereka yang pernah berkiprah dan memiliki romantisme dengan organisasi ekstrauniversiter terbesar itu. Masa kejayaan HMI yang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, tampaknya akan sulit terulang kembali. Bukan saja karena kekuatan HMI yang semakin surut, melainkan juga karena ia tidak lagi menjadi organisasi prestisius yang berprestasi. HMI kini secara bertahap menjadi sesuatu yang asing, bahkan di kalangan mahasiswa Islam sekalipun.


Banyak mahasiswa yang sekarang ini menjadi aktivis masjid kampus atau kelompok studi agama enggan bergabung dengan HMI, meskipun mereka memiliki tujuan perjuangan yang sama. Walaupun HMI pernah menjadi besar dan banyak alumninya menjadi "orang besar" dalam pemerintahan, namun latar belakang historis dan segala contoh yang baik dan buruk dari para pendahulunya tampak kurang menjadi pendorong bagi anggota HMI sekarang untuk memacu prestasinya. Hal ini memunculkan penilaian yang agak minus bahwa kader HMI lebih pintar berdebat, sementara dalam karya nyata "nol besar".


Kalau dulu banyak gagasan intelektual yang muncul dari para kadernya mewarnai pemikiran pembaruan Islam di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada era 1970-an ketika Nurcholish Madjid-sebagai salah satu contoh yang sangat menonjol ketika itu-melontarkan gagasan mengenai modernisasi dan sekularisasi pemikiran Islam, yang kemudian terkenal dengan ide "Islam Yes, Partai Islam No". Maka, boleh dikatakan bahwa HMI kini hanya memunculkan Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum PB HMI, yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU).


Tantangan zaman yang menjadi kecenderungan perkembangan global sekarang ini menuntut HMI sebagai organisasi kemahasiswaan untuk dapat membaca dan memantau ke arah mana kecenderungan itu berkembang. Dengan demikian, dapat secara tepat merumuskan antisipasi terhadap kecenderungan global tersebut, baik perkembangan makrostruktur politik maupun melalui mikrostruktur programnya.


Barangkali yang juga menjadi penting adalah bagaimana mempersiapkan organisasi HMI untuk selalu berpikir analitis, prediktif, dan visioner agar dapat berkiprah sesuai dinamika kekinian dan tantangan masa mendatang.


Tantangan ke depan


Tampaknya HMI harus mampu mendiskripsikan lagi perjalanan organisasinya untuk dapat meningkatkan keunggulan komparatif sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Tentu saja, SDM sebagai khazanah intelektual yang dimilikinya itu tidak akan dapat dikembangkan oleh HMI bila organisasi ini tercabut akarnya dari kampus sebagai basis kekuatan intelektualitasnya.


Dalam konteks ini, hemat kita, HMI sekarang harus berupaya keras merebut kembali tradisi intelektual yang pernah dimilikinya pada era 1960-an hingga awal 1970-an. Prinsip kembali ke kampus (back to campus) harus dipupuk melalui berbagai format aktivitas kemahasiswaan. Dalam hal ini orientasi kualitas harus dikedepankan daripada kuantitas.


Keberhasilan dalam perumusan kembali atau reorientasi tujuan jangka panjang organisasi HMI dapat terwujud jika HMI memiliki kemampuan dalam memahami, menguasai, dan mengarahkan potensi kekuatan yang selama ini pernah dimiliki HMI, yakni konsistensi-integralitas wawasan keislaman-kebangsaan, tradisi intelektual, dan independensinya.


Untuk mencapai tujuan besar yang dicita-citakan organisasi HMI, barangkali perlu dikaji kembali lebih jauh kemungkinan HMI dapat memosisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan nonformal, tempat menempa anggotanya menjadi insan akademis yang berkualitas di tengah umat dan bangsanya.


Dengan demikian, program kegiatan HMI tidak lagi masif, yang penuh dengan seremonial. Sebab, posisinya akan menjadi inner power atau kekuatan intelektual umat Islam. Dengan kata lain, HMI akan menjadi semacam pusat unggulan (center of excellence) dan bukan hanya merupakan centerpiece (perhiasan di tengah meja).


Dengan orientasi keislaman dan kekuatan intelektual, maka secara operatif akan lahir kader HMI yang dinamis, terbuka, dan demokratis, serta hanya tunduk pada kebenaran dari mana pun datangnya. Di sisi lain, semangat untuk mengimplementasikan fungsi kekhalifahan mengharuskan HMI bersifat inklusif dengan tetap mempertegas independensi organisasi.


Independensi HMI yang selama ini telah teruji keberadaannya dan semboyan juangnya sebagai "pemersatu umat dan bangsa" jangan sampai kendur. Artinya, meski harus menyatu dan menjadi salah satu faktor dalam membangun dinamika umat dan bangsa, jati diri dan wawasan keumatan serta kebangsaannya tidak larut dan terseret ke dalam "sektarianisme" baru.




Sumber : http://wwwani5bekti.blogspot.com/2009/05/hmi.html
Selengkapnya...

Rabu, 20 Juli 2011

Contact Person

Himpunan Mahasiswa Islam
Komisariat Stikes Nani Hasanuddin 
Makassar
Cabang Makassar Timur


Sekretariat :
Jln.Perintis Kemerdekaan VI (P.Hikmah)
Tamalanrea-Makassar
Sulawesi Selatan


Contact Person :
085824532453-098299270010


Email :
hmikom.stikesnhm@yahoo.co.id


facebook :
hmi Stikes Nani Hasanuddin


Blog :
hijauhitam65@blogspot.com



Selengkapnya...

Senin, 04 Juli 2011

Provocative Or Proactive

Assalamu Alaikum Wr.Wb


Salam Perjuangan . . .


Sebelumnya terima kasih atas tulisan yang anda muat beberapa hari yang lalu, tentunya kami dari “Hijau Hitam” menanggapi secara positif dan semoga menjadi bahan intropeksi untuk kami tentunya.Kami sepakat ketika anda menyatakan bahwa dalam gerakan kita sama bergerak dalam kemahasiswaan dan menginginkan pembaharuan tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa kami tidak sependapat dengan klaim yang anda tujukan kalau ternyata ‘Hijau Hitam” itu seperti jago bicara (retorikanya mantap), banyak menuntut (mega elo’na), tetapi tidak ada AKSInya (de’ na melo majjama), ada beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama :

Pemahaman anda tentang ‘Hijau Hitam” yang anda klaim jago bicara (retorikanya mantap), banyak menuntuk (mega elo’na), tetapi tidak ada AKSInya (de’ na melo majjama), tidak ada dalam benak dan hati kami.Kami juga tidak mengakui diri kami jago dalam beretorika intinya bagaimana kami meng_eksplor ilmu-ilmu yang kami miliki, karena apa gunanya ilmu ketika tidak dimanfaatkan/dikeluarkan.Menuntut ? Menuntut dalam hal apa ?, Kami terlahir dari rakyat dan sudah sewajarnya kami menuntut ketika hak-hak kami dirampas, perlu saudara ketahui “Hijau Hitam” bukan organisasi yang hanya menunggu perubahan tanpa disertai dengan perjuangan dari “Hujau Hitam” sendiri.Anda salah besar ketika anda mengatakan tidak ada aksi dari “Hijau Hitam”, organisasi mahasiswa islam pertama dan tertua di Indonesia adalah “Hijau Hitam” tentunya dalam sejarah pembaharuan bangsa sedikit banyak ‘Hijau Hitam” ikut andil dan tampil sebagai penggagas dan ikut bekerja untuk sebuah perubahan itu.Tentunya tidak perlu lagi kami menyebutkan satu persatu tokoh-tokoh hasil produksi dari “Hijau Hitam”itu sendiri.

Kami tidak pernah menganggap organisasi lain sebagai musuh atau rival kita melainkan sebagai saudara atau sahabat untuk mewujudkan satu tujuan yaitu perubahan untuk rakyat. Namun hal itu bukan berarti HmI menjadi organisasi politik, sebab HmI lahir sebagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan (ormas), yang menjadikan nila-nilai Islam sebagai landasan teologisnya, kampus sebagai wahana aktivitasnya, mahasiswa Islam sebagai anggotanya. Background kampus dan idealisme mahasiswa merupakan faktor penyebab HmI senantiasa berpartisipasi aktif dalam merespon problematika yang dihadapai umat dan bangsa, jadi wajar jika HmI tetap memainkan peran politiknya dalam kancah bangsa ini. Selain itu, argumentasi lain dikemukakan oleh Rusli karim dalam tulisannya; “Walaupun HmI bukan organisasi politik, tetapi ia peka dengan permasalahan politik. Bahkan kadang-kadang karena keterlibatannya yang sangat tinggi dalam aktivitas politik ia dituduh sebagai kelompok penekan (pressure group)”.


Singkat, seperti ini tanggapan dari kami dan tentunya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya juga jika ada kata/kalimat yang tidak sesuai dengan pemikiran dan pemahaman anda karena inilah kami penuh dengan rasionalitas dan ekspansitas untuk mewujudkan tujuan Hijau Hitam.

Yakin Usaha Sampai...

Wassalamu Alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh..
Selengkapnya...