Tak terasa pergantian gelap dan
terang, siang dan malam, menghantarkan kita di akhir agenda Basic Training
(Bastra) HmI komisariat Stikes Nani Hasanuddin Makassar yang berlangsung di Asrama Mahasiswa Muna yang
dilaksanakan dari tanggal 28-30 oktober 2011 dan selesai sesuai jadwal dan waktu yang
direncanakan .Dengan mengusung tema
“Membentuk Kepribadian Muslim yang Berkualitas Akademis, Sadar akan
Fungsi dan Perannya dan Berorganisasi serta Hak dan Kewajibannya sebagai Kader
Umat dan Bangsa” , dengan tema tersebut seyogyanya lepasan Bastra ini dapat
memberi kontribusi yang positif bagi perkembangan dunia kemahasiswaan umumnya
dan kampus tempat mahasiswa bernaung khususnya.
Seperti kalimat yang diungkapkan
Jalaluddin Rumi, Tak ada kelahiran tanpa rasa sakit, mungkin tepat
disematkatkan kepada teman-teman panitia dan pengurus harian dalam menyusun,
merencanakan, dan melaksanakan kegiatan ini.Selama perencanaan dan kegiatan
berlangsung banyak kendala-kendala yang muncul, namun niat tulus dan ikhlas
dari teman-teman panitia yang bekerja keras untuk menyukseskan Bastra ke II ini
akhirnya bisa teratasi.
Berbagai hal yang muncul selama pelaksanaan Bastra ke II ini
yang tentunya melahirkan nilai-nilai historis bagi perkembangan HmI di kampus
Oranye ini, diantaranya kesuksesan Bastra ke II ini telah mengubah nama dan status HmI kom.Stikes Nani
Hasanuddin dari komisariat persiapan menjadi komisariat penuh.Selain itu pada
angkatan ke II ini sebanyak 27
mahasiswa/mahasiswi yang mendaftar dan yang dinyatakan lulus sebanyak 23
orang.Kurangnya peserta yang mendaftar dan yang telah lulus bukan menjadi masalah bagi kami, intinya
jumlah kuantitas tidak menyurutkan kualitas yang dimiliki dan bisa jadi menjadi
PR bagi kami untuk terus mensosialisasikan Hijau Hitam di Kampus Oranye dan
menumbuhkan minat mahasiswa untuk menjadi salah satu kader dari beribu-ribu
kader Hijau Hitam yang ada di Indonesia.Akhir kata, terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
·Himpunan Mahasiswa Islam Cabang
Makassar Timur yang diwakili Kakanda Usop
·Master Of Training oleh Kakanda
M.Husni
·Vice Of Master oleh Kakanda Mulyadi
·Ketua HmI Kom.Stikes Nani Hasanuddin
oleh Kakanda Syarifudin
·Kakanda-Kakanda Instruktur Utama dan
Instruktur Madya
·Ketua Panitia Bastra ke II oleh
Adinda Lutfy Muammar
·Pengurus Harian dan Panitia Bastra
ke II HmI Kom.Stikes Nani Hasanuddin
Dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi serta
sumbangsih positif dalam menyukseskan kegiatan Bastra ke II yang tidak bisa
kami sebutkan satu persatu,. dan apa yang kita berikan dan lakukan mendapatkan
Ridha oleh Allah SWT. Amin… !!!
Wabillahi Taufik Walhidayah
Yakin Usaha Sampai
Wassalamu Alaikum Wr.Wb
Gambar 01, Serah terima list peserta Basic Training angkatan ke II
Dalam sebuah Diskusi dengan Seorang Budayawan ” D. Zawawi Imron (DZ) ” di
Yabina Jember, ia pernah bertanya kepada peserta diskusi (seminar), “Sebenarnya
HMI dengan Cak Nur itu lebih hebat yang mana?” kemudian Zawawi berpendapat
“Menurut saya, Cak Nur jauh lebih besar, jauh lebih hebat dari HMI!”
Dulu, waktu Soekarno berkuasa, seolah-olah Indonesia identik dengan
Soekarno, dan hal yang sama juga terjadi ketika Soeharto berkuasa. Pandangan di
atas dibarengi sedikit pengertian salah kaprah, bahwa rejim Soekarno hanya akan
berumur sepanjang usia Soekarno. Demikian pula dengan rejim Soeharto, yang
kekuasaannya akan berumur sepanjang usia Soeharto.
Hal yang lebih salah kaprah lagi, negara (Indonesia) diidentikkan dengan pemerintah,
padahal pemerintah hanyalah penyelenggara negara. Dus artinya, negara akan
abadi, sedangkan pemerintahan bisa berganti-ganti.
Amien Rais dulu menyebut “fenomena kayak beginian” sebagai “syirik
politik,” dan karena itu pandangan seperti itu harus diruntuhkan. Jika kita
konsekuen dengan cara berpikir yang realistis seperti itu, maka akan SANGAT
MENYESATKAN jika dikatakan HMI mati bersama wafatnya Cak Nur.
Memang cak Nur hebat, sanggup merumuskan NDP, dan meninggalkan warisan yang
amat berharga dalam perjalanan sejarah HMI. Namun kebesaran figur Noercholish
tak berarti harus berujung pada suatu cara pandang yang miopik, yang rada-rada
rabun gitu, dalam memandang fenomena HMI. Mengidentikkan HMI dengan Cak Nur
kurang tepat, meski tidak salah. Letak kurang tepatnya adalah… HMI memiliki
tradisi sejarah yang panjang, sangat pluralis, dan dibesarkan dalam
situasi-situasi yang crucial, diantaranya bahkan dalam suasana negara penuh
konflik.
Toh, Noercholish tak selalu hadir dalam suasana seperti itu. Namun Cak Nur
diuntungkan oleh sejarah karena dari sebagian “suasana crucial itu” Cak
Nur hadir, dan mirip sebagai “seorang penempa baja sejarah hmi ketika baja itu
tengah membara.” Ingat, Noercholish menjadi ketua umum PB HMI pada periode
1966-1971, sebuah periode yang sangat menentukan dalam sejarah Indonesia,
sebuah periode transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto, yang bahkan
menurut istilah Cak Nur sendiri sebanding dengan sejarah civil war atau
perang sipil dalam sejarah Amerika Serikat.
Hasil dari peristiwa besar itu, di Indonesia komunisme terhapus dari
panggung politik Indonesia, dan umat Islam bersama ABRI menjadi tulang punggung
orde baru dan memegang amanat menjalankan kekuasaan negara. Di Amerika Serikat,
civil war menghapus sistem perbudakan, mengibarkan kemenangan demokrasi,
dan mengubur feodalisme.
Selanjutnya, HMI begitu dalam bermitra dengan kekuasaan Orde Baru, sebagian
juga karena strategi yang dirancang Cak Nur sendiri, yang menghendaki agar umat
Islam tidak terbiasa dengan mentalitas “di luar pagar”…artinya, tidak terbiasa
berada di luar birokrasi negara dan terus menerus mengembangkan gagasan tentang
negara Islam, yang ujung-ujungnya membawa umat Islam kepada pemberontakan
bersenjata.
Mungkin Cak Nur tidak terlalu jauh membayangkan bahwa strateginya itu di
belakang hari terbukti menjadi beban, khususnya, bagi anak-anak HMI. Memang,
cak Nur bersama rekan-rekannya sesama intelektual muslim dan aktivis HMI telah
merancang berdirinya ICMI, suatu bentuk “organisasi proto partai politik” yang
dibungkus sebagai gerakan sosial umat Islam, karena waktu itu tidak mungkin
umat Islam mendirikan partai politik di luar PPP, Golkar, dan PDI.
Cak Nur mewariskan ide-ide besar, juga strategi-strategi yang bersifat
gradual, dalam mengintegrasikan secara penuh umat Islam Indonesia ke dalam
Republik Indonesia. Semua anak HMI mahfum tentang hal itu, kecuali yang
diragukan ke-HMI-annya.
Maka menjadi jelas, bahwa struktur mental orang Indonesia yang
paternalistik, akan mudah membentuk kesadaran anti demokratis dalam memaknai
sepak terjang Cak Nur. Dalam bahasa sederhana, Cak Nur wafat, HMI tamat.
This is really a very misleading judgement!
Tengoklah sendiri, ketika Mas Anas Urbaningrum terpilih dalam Kongres HMI di
Yogya, dan suasana kongres diwarnai ricuh-ricuh, dengan enteng Cak Nur
bilang….HMI itu udah kayak besi tua, karatan…
Beberapa tahun sebelumnya, Cak Nur masih memuji bahwa suasana kongres yang
diwarnai ribut-ribut sesungguhnya mencerminkan dinamika di internal HMI, sebuah
dinamika yang memiliki arti positif jika disalurkan dengan benar.
Ini semua membuktikan bahwa membandingkan HMI dengan Cak Nur pada era 80-an
ke atas–suatu era yang jauh berbeda dengan era Cak Nur–sangat tidak
proporsional.
Cak Nur lebih besar dari HMI?
Ngapain kita musti masuk ke wilayah pertanyaan yang nggak produktif seperti
itu. Noercholish toh besar karena HMI juga. Memisahkan HMI dari Noercholish,
mengutip ungkapan almarhum Jenderal AH Nasution, sama saja dengan memisahkan
air dengan ikan.
Jujur saja, kita nggak usah hipokrit-lah bahwa karena kebijakan yang
digariskan terhadap HMI oleh generasi Noercholish dulu…justeru menjadi salah
satu sebab utama mengapa HMI menjadi seperti sekarang!
Jika ada kesalahan, maka kesalahan terbesar justeru pada perkaderan HMI
sendiri, yang membuat HMI menjadi gagap terhadap berkembangnya era
demokratisasi di Indonesia, terlebih-lebih karena para kadernya terlalu
terbiasa meniru abang-abangnya yang pingin berkuasa melalui birokrasi negara.
Memang… untuk ini Noercholish bisa disebut bersalah sekaligus berjasa…tapi
itulah harga sebuah pilihan politik!
Rasa marah, minder, gemes, dan mungkin muak di kalangan orang-orang yang
pernah aktif di HMI terhadap sepak terjang HMI dewasa ini, terutama setelah
mengamati Kongres HMI di Makassar, sangat masuk akal dan bisa dimengerti.
Memang, HMI perlu perubahan revolusioner!
Sayangnya, momentum terjadinya perubahan seperti itu tidak tersedia lagi.
Demokrasi menghendaki kesabaran, keuletan, dan ketelatenan…terutama dalam
membangun konsensus bagi lahirnya tradisi organisasi yang baik. Memasang
kepercayaan tinggi bahwa HMI akan mampu melakukan hal itu memang sangat
beresiko. Investasi ke arah itu memerlukan syarat mutlak, antara lain: Masa
depan anak-anak HMI harus ditentukan oleh anak-anak HMI sendiri, bukan oleh
alumninya, oleh kelompok-kelompok tertentu di luar HMI, apalagi oleh kekuasaan
negara sebagaimana di waktu lalu. HMI harus memilih jalan yang tegas, yakni
sebagai anak umat Islam sekaligus anak bangsa Indonesia. Ini semua membuka peluang
luar biasa besarnya bagi “rekayasa masa depan HMI,” karena hampir
seluruhnya mengandalkan kreatifitas yang bersifat lokal.
Meniru Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), sejak lama
setelah berakhirnya kepemimpinan Datuk Anwar Ibrahim di ABIM yang sangat
bersejarah, telah dimapankan model-model organisasi yang bersifat federatif,
dan sepenuhnya menyatu ke dalam barisan umat Islam Malaysia, sekaligus menjadi
penyuplai utama dalam sistem politik Malaysia yang didominasi para puak Melayu.
Di Indonesia, masalahnya sedikit rumit karena HMI harus menerima kenyataan
bahwa umat Islam Indonesia tidaklah satu, terpecah-pecah ke dalam berbagai
organisasi, dan masing-masing dalam hubungannya satu sama lain seringkali
memiliki sejarah yang tak jarang diwarnai konflik.
Mungkin….suatu saat akan ada orang mengatakan… HMI nggak perlu ada, toh
sudah ada IMM yang Muhammadiyah banget, atau PMII yang NU banget itu… atau ada
lagi organisasi mahasiswa onderbouw Ormas Islam yang lain…
Pandangan seperti ini sama simplisistis-nya dengan pandangan Zawawi Imron!
HMI hari ini memang menghadapi krisis yang berat, dan begitu banyak kader
HMI, atau alumni HMI yang kehilangan kepercayaan diri, diserang rasa minder
yang hebat, dan mengutip cak Nur, mengidap semacam psikose yang symptom atau
gejalanya berupa “adegan banting gelas” karena “minuman yang dijanjikan
terasa manis dan segar ternyata pahit dan menyakitkan tenggorokan.”
Bagi sebagian besar keluarga HMI “sindroma banting gelas” ini masih akan
berumur lama, karena sindroma ini baru akan bisa disembuhkan jika HMI mampu
melakukan reformasi mendasar, baik dalam hal perkaderan, pedoman organisasi,
attitude, keberpihakan, dan koreksi terus menerus terhadap perjalanan
sejarahnya.
HMI adalah sebuah institusi…sama seperti TNI juga sebuah institusi.
Reformasi institusional dalam sejarah terbukti baru berjalan efektif jika
terjadi pertemuan dua faktor utama, yaitu faktor obyektif dan faktor subyektif.
Faktor obyektif adalah kondisi eksternal yang ada di luar HMI, dalam hal ini
perubahan-perubahan mendasar yang terjadi dalam masyarakat, yang mempengaruhi
pula terjadinya perubahan dalam sejarah perjalanan Republik Indonesia.
Sedangkan faktor subyektifnya adalah kesadaran yang muncul di kalangan para
kader HMI, yang merasa terpanggil oleh tugas sejarah, untuk memprakarsai
langkah-langkah reformasi di internal HMI sendiri.
Tentu saja… Kita bersukur masih ada orang seperti Zawawi Imron yang
“maksain” membanding-bandingkan kebesaran HMI sebagai institusi dengan figur
Noercholish Madjid sebagai pribadi.
Kita bersukur karena lontaran itu diungkapkan oleh orang yang kayaknya
berada di luar HMI–dus artinya pemahamannya terhadap sejarah HMI bisa kita
maklumi jika sangat terbatas–tetapi masih berada dalam lingkaran keluarga besar
umat Islam Indonesia.
Penilaian semacam itu semestinya bisa memberi arti positif kepada para kader
HMI, terutama dalam memperkuat komitmennya dengan memperbaiki secara terus-menerus
proses-proses perkaderan yang ada di HMI, dan tidak menyerah atau pasrah kepada
situasi.
Insyaallah…. dalam beberapa tahun ke depan, kader-kader semacam itu akan
mampu memacu geliat HMI sebagai sebuah organisasi perkaderan, yang kehadirannya
masih tetap aktual dan kontekstual dengan tuntutan situasi dewasa ini.
Akhirnya … perlu di tegaskan bahwa SAMA SEKALI TIDAK ADA DORONGAN DAN
SUASANA APOLOGETIK dari posting yang panjang ini….
Kita semua prihatin melihat keberadaan HMI saat ini, tapi jangan sekali-kali
kita kehilangan kepercayaan kepada masa depan. Justeru karena kita ber-Islam,
ber-Iman, dan ber-Ikhsan… kita harus tetap realistis sekaligus optimis
memandang masa depan.
Puncak revolusi mei 1998 adalah penggulingan Jenderal Besar (purn)
Soeharto, didahului oleh pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa Indonesia.
Namun, revolusi mei 1998 hanyalah awal dari tahap pertama (first strage)
revolusi demokrasi yang dipelopori gerakan mahasiswa. Tahap pertama revolusi
demokrasi ini merupakan tahap pembongkaran kesadaran massa dan mahasiswa
terhadap struktur ekonomi, politik, sosial dan budaya yang menindas atau
eksploitatif. Proses pembentukkan tahap pertama revolusi demokrasi ini
berlangsung sepanjang sejarah rezim Orde baru (ditandai sejumlah
"puncak" perlawanan gerakan mahasiswa 1974, 1987,1989, dan 1998).
Basic Training /Latihan Kader-1 (LK-1)
Dari titik
tolak inilah organisasi mahasiswa Islam terbesar dan tertua di Indonesia yaitu
HmI didirikan atas prakarsa Ayahanda Lafran Pane ikut andil dalam menentukan
sejarah bangsa Indonesia, dengan cita-cita membentuk kepribadian indivdu yang
berkarakter Islam dan bertanggung jawab atas tercapainya masyarakat yang adil
dan makmur yang diridhoi Allah SWT. Dengan melahirkan kader-kader yang siap
turun ke gelanggang politik, ekonomi dan sosial yang siap tempur dan terbukti
menghasilkan output yang bisa dibanggakan.
Dari paradigma
ini kami dari HmI Komisariat Stikes Nani Hasanuddin Makassar cabang
Makassar timur akan mengadakan Basic Training (Bastra) atau
lebih dikenal dengan Latihan Kader-1 (LK-1) angkatan 2 dengan mengambil tema
“Membentuk Kepribadian Muslim yang Berkualitas Akademis, Sadar akan Fungsi dan
Perannya dan Berorganisasi serta Hak dan Kewajibannya sebagai Kader Umat dan
Bangsa”. Dengan tema tersebut tentunya kami berharap lulusan LK-1 ini dapat menerapkan ilmu-ilmu yang
didapatkan pada kegiatan ini dalam kehidupan akademis dan organisasi.
Lebih lanjut,
adapun target yang ingin kita capai dalam kegiatan ini adalah :
·Memiliki kesadaran menjalankan
ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, Dari target inilah HmI mencoba
menawarkan sesuatu yang lebih istimewa kepada lulusan LK-1.Menilisik situasi
dan kondisi mahasiswa zaman ini, HmI mencoba tampil kedepan dan bertekad memberikan dharma bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman
demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata
‘ala.
·Mampu meningkatkan kemampuan
akademis, Sementara itu disisi lain banyaknya paradigma-paradigma
dari berbagai kalangan yang menjustifikasi bahwa organisasi hanya menghambat
akademis (aktivitas perkuliahan), dari pemikiran inilah kami akan
meluruskannya,orientasi Hmi bukan hanya pada sektor religius, sosial, politik
dan ekonomi, akan tetapi disetiap lini di setiap sisi kehidupan utamanya seseorang
yang menyandang predikat sebagai mahasiswa tentang bagaimana cara meningkatkan
prestasi akademisnya.
· Memiliki kesadaran dan tanggung jawab
keummatan, Kacau balaunya kondisi ummat sekarang adalah menjadi
alasan HmI menjadikannya sebuah target yang bisa memberikan suatu nilai
kontribusi lebih dan berperan aktif dalam
mengembalikan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya dengan tetap berpegang
teguh pada Qur’an dan Hadist.
·Memiliki kesadaran
organisasi, tak heran orang-orang yang duduk di lembaga birokrasi lahir dari
organisasi yang besar dan membesarkan organisasi tersebut, dari implementasi
tersebut kami ingin menanamkan nilai-nilai perjuangan HmI dan menjadi aktivis
dan bukan sebagai mahasiswa yang hanya sekedar ngampus.
Dengan
dasar tersebut HmI Kom.Stikes Nani Hasanuddin Makassar sebagai organisasi
mahasiswa Islam dan mencoba memberikan sumbangsi yang positif kepada masyarakat
kampus dalam kehidupan berorganisasi, berbangsa, bernegara dan beragama serta
mengharumkan nama kampus Stikes Nani Hasanuddin yang kita banggakan ini dengan
ideologi keIslamannya.
Sepanjang lebih dari 64 tahun berdiri, HMI telah menampilkan peran
dan kiprah bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. HMI tidak hanya telah
melahirkan banyak alumnus yang tersebar di berbagai bidang kehidupan
bangsa, tapi juga turut mewarnai sejarah modern Islam Indonesia.
Berbagai model alumnus lahir dari rahim perkaderan HMI. Berbagai tipe
alumnus telah bermunculan dari pembelajaran di HMI. Kiprah alumni
tumbuh dan berkembang sesuai panggilan jiwa masing-masing. Bebas
memilih, sebebas cara berpikir yang dikembangkan dalam kehidupan
organisasi.
Jujur harus dikatakan, tidak semua kiprah dan peran alumni HMI bisa
menjadi teladan. Ada yang tidak berhasil melawan sifat lalai, alpa,
kemudian menerima musibah nama baik. Tapi, sebagian besar adalah
orang-orang yang hidup dan tampil wajar, sesuai profesi masing-masing.
Ulet bekerja, berkarya penuh ketekunan.
Sama dengan organisasi dan gerakan kemahasiswaan lain, tantangan HMI
menjadi lebih berat. Kondisi eksternal yang berubah cepat, dengan
berbagai warna dan dinamikanya, sangat menuntut adaptasi, kreasi peran,
serta kiprah baru yang relevan dan produktif.
Memegang dan Menegakan Khitah
Sebagai organisasi perjuangan, HMI tetap penting dan strategis. Lahan
garap mahasiswa, komunitas kaum muda terdidik, adalah wilayah yang
lebih unggul daripada kelompok muda lain. Meski tidak sepenting pada
zaman pra-kemerdekaan, 1950 sampai 1970, posisi serta peran mahasiswa
tetap penting.
Mahasiswa mempunyai peluang dan kesempatan untuk melakukan mobilitas
sosial menjadi kelas menengah, pada berbagai bidang kehidupan yang
semakin terbagi-bagi oleh proses modernisasi.
.
HMI akan tetap
hidup, tegak dan terus mampu menjalankan tugas sejarahnya, jika secara
sungguh-sungguh mengonsentrasikan diri pada pengaderan mahasiswa yang
dengan tajam diorientasikan kepada lahirnya komunitas kelas menengah
yang mempunyai kedalaman akademik-intelektual, kemahiran, ketrampilan
teknokratis, serta komitmen sosial-politik yang memadai. Tentu, semua
dipayungi komitmen dan landasan keislaman yang cukup.
Dalam kaitan tersebut, HMI perlu menjaga, merawat, dan menajamkan
pengaderan anggotanya dengan aksentuasi pada beberapa hal pokok.
Pertama, pengkajian dan pendalaman Islam adalah sisi mutlak. Kader
sangat perlu dibekali wawasan dan inspirasi, pengetahuan, kesadaran dan
spirit pergerakan, serta tubuh dan api Islam. Tentu, Islam dalam
pengertian dan wajah modernis, pluralis, damai, kontekstual, dan bervisi
masa depan.
Kedua, pengembangan tradisi intelektual sangat penting dijaga dan
dibangkitkan kembali. Itulah salah satu karakter yang menjadi bagian
sejarah HMI. Jika sekarang intelektualitas dan tradisi intelektualisme
agak menurun, tidak ada jalan lain kecuali menggali kembali "harta
karun" tradisi intelektual yang dulu pernah berkembang.
Ketiga, pengembangan tradisi kepemimpinan yang demokratis dan
mengakar. HMI masih berpotensi menjadi salah satu ladang bagi lahirnya
kepemimpinan sipil dari kalangan Islam moderat -berpaham
nasionalis-religius Islam. Kader-kader HMI, baik yang terjun lebih cepat
ke jalur partai politik, menjadi akademisi atau jalur intelektual di
kampus, maupun yang menempa diri di jalur LSM, dituntut tidak hanya
mampu dan matang secara politik, terampil berorganisasi, dan mahir
berkomunikasi sosial, tapi juga semakin dituntut untuk membangun basis
dan akar politik yang memadai.
Membongkar Paradigma Yang Kaku di HMI
Banyak pula kalangan yang beralasan mengenai
kemunduran/kemerosotan HMI dengan mengatakan bahwa HMI tidak merosot
sendirian karena toh ormas mahasiswa lain juga mengalami kemerosotan.
HMI masih survive akan tetapi tentunya perlu ditilik ulang survive yang
seperti apa. Bagi penulis menghibur diri semacam itu bukan cara yang
baik bahkan dapat menyesatkan. Tentunya, alangkah lebih baik tentunya
jika kita dapat jujur dalam melihat cermin diri kita akan kondisi
kekinian HMI.
Bukankah suatu kewajiban bagi HMI untuk mendahulukan prinsip the
right man on the right place untuk membangun HMI lebih baik bukan the
wrong man on the wrong place because political oriented an sich .
Kini kita memasuki abad ke-21 yang penuh tantangan di mana peran dan
fungsi tentunya yang harus dikedepankan untuk membawa HMI kembali
menjadi organisasi bagi kader umat dan kader bangsa yang menjadi
kebanggaan dan harapan masyarakat Indonesia. Buat apa berstatus pengurus
Komisariat, pengurus Korkom, pengurus Cabang, pengurus Badko dan
pengurus Besar tapi tidak dapat memberikan kemajuan bagi HMI.
Kemudian dari segi pendanaan organisasi, tidak dapat disangkal
bahwa kebanyakan HMI hanya mengandalkan PT Proposalindo bagi kegiatan
yang dilakukan tanpa memikirkan transparansi penggunaan dana kepada
donatur atau alumni yang telah memberikan dana bantuan tersebut.
Selain itu menurut penulis, kini banyak kader maupun alumni yang
senang hanya beromantisme sejarah belaka bahkan ada yang melakukan
kultus individu terhadap beberapa tokoh HMI. Menurut penulis, rasa kagum
merupakan hal yang wajar asalkan kita senantiasa berupaya untuk
memperbaiki diri tetapi jangan sampai menjadi kultus individu atau
romantisme akut tanpa melihat kondisi kekinian.
Mencermati kondisi saat ini, maka mendesak untuk melahirkan cara
pandang baru yang lebih proporsional terhadap sejarah masa lalu.Sehingga
dibutuhkan kacamata yang lebih jernih untuk memandang. Sejarah bukan
untuk dimitoskan. Prestasi masa lalu tak untuk disanjung- sanjung.
Sejarah adalah pelita dan masa lalu adalah lilin penerang bagi masa
datang.
Setidaknya semangat ( ghirah ) untuk terus menggelorakan
nilai-nilai perjuangan HMI dalam berperan secara nyata bagi umat dan
bangsa mutlak untuk senantiasa dipupuk dan diimplementasikan. Hal ini
tentu bukan hanya sekadar berani tampil beda. Tapi, kesanggupan
merumuskan gagasan-gagasan yang kreatif dan produktif bagi kebangkitan
kembali HMI.
Penutup
Ibarat air sungai, nampaknya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini
sudah sangat jauh dari mata air. Bahkan boleh jadi sudah mendekati
muara. Kejernihan air sungai semakin keruh tidak lagi terlihat warna
aslinya sebab bercampur dengan ragam "limbah" di sepanjang aliran.
Kalaupun nampak kejernihan itu, barangkali hanya bisa dilihat dari
catatan sejarah "kebesaran HMI" dan penuturan alumni yang telah mewarnai
panggung sejarah Indonesia.
HMI nampak kering dan miskin akan nilai-nilai intelektual dan
akademis. Budaya organisasi yang mengarah pada tumbuhnya pemikiran baru
tidak lagi nampak dan hanya tinggal kenangan. Kondisi HMI yang demikian
tentu bukan terjadi tanpa dibarengi sebab, dan dari sadar akan sebab
itulah kita bisa secepatnya mengembalikan HMI dalam jalur yang
semestinya. Orientasi kader dalam memaknai HMI sebagai wadah perjuangan
keumatan dan kebangsaan adalah problem yang sudah lama terkena polusi
oleh orientasi politis.
Tidak salah memang orientasi ini tumbuh,
sebagai salah satu soft skill politik yang semestinya dimiliki kader
HMI. Disamping pendewasaan politik bagi setiap kader. Namun budaya yang
memacu tumbuhnya nilai-nilai intelektual semestinya tidak boleh
ditinggalkan, lebih ditonjolkan, dan mulai kembali dibangun. Sebab HMI
menjadi besar dan berkembang tidak semata karena track record para kader
dalam bidang politik semata. Justru melalui dimensi pemikiran dan
pergerakan itulah HMI memiliki nilai lebih.
*Nurul Huda (Mantan Sekretaris Umum HMI Cabang Lebak, Banten)
Sebagai organisasi
Mahasiswa Islam terbesar HMI di usia yang ke-64 tahun telah mengukuhkan
posisinya pada kondisi yang mapan, namun demikian mapannya usia HMI tentu akan
melahirkan dua hal yang akan memberi warna dan saling bertolak belakang, disatu
sisi HMI akan semakin kokoh secara institusional dan dinamis, namun disisi lain
karena didasari nama besar dan proses perjalanan sejarahnya HMI hari ini
cenderung menjadi lamban dan bergerak ditempat. Selain itu sikap establish yang
lahir dari kebanggaan sejarah lampau kiprah HMI mengakibatkan HMI hari ini
cenderung tampil dalam kesadaran palsu.
Sejak HMI didirikan
di Jokyakarta oleh lafran pane 5 Februari 1947 HMI telah mengambil sikap yang
tegas dan mentahbiskan dirinya sebagai kelompok yang mendorong dua hal, tanpa
bermaksud menyederhanakan makna dua hal itu antara lain komitmen untuk
mendorong kepentingan keumatan dan komitmen kebangsaan. Dua komitmen ini yang
kemudian membuka ruang yang dinamis bagi kiprah HMI, apalagi HMI sangat
menjujung pluralisme, HMI tidak mempersoalkan aliran dalam Islam, HMI tidak
terjebak pada tarik ulur pengelompokan ummat Islam yang cenderung
mempertentangkan Majhab dan aliran. Akibatnya HMI menjadi dinamis dan lahan
subur bagi tumbuhnya gagasan-gasan Islam yang mewakili kemoderenan zaman.
Singkatnya dalam perjalanan usianya HMI telah memberi banyak kontribusi bagi
dinamika keumatan dan kebangsaan.
Namun kemudian layaknya
sebuah organisasi kader yang mengkayuh dari zaman ke zaman, HMI tidak lepas
dari pasang surut. Bahkan akibat beban sejarah yang banyak mendorong kiprah HMI
pada ranah politik, dampaknya hari ini HMI dan kader-kadernya sangat politikal
oriented. Sikap kader HMI yang sangat politik oriented ini melahirkan tampilan
organisasi yang pincang dan kian hari menjadi dijauhi oleh basis di
Kampus-kampus. Apalagi saat ini organisasi Islam yang tumbuh dan berkembang
bukan hanya HMI. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan tampilan organisasi
yang tidak pernah berubah padahal zaman mau tidak mau memaksa setiap individu
maupun organisasi untuk berubah. Ringkasnya kian lama HMI semakin kehilangan
relevansinya, HMI sudah tidak kompetibel dengan zaman.
Kerasnya arus globalisasi
yang melahirkan berbagai trend dan tuntutan zaman menjadikan HMI kian
tertinggal dengan cara-cara berpikir lama dan hanya berpikir politik
structural. Pada hal faktanya dalam dunia yang kian menjadi kapitalis poilitik
harus dibarengi kesiapan financial yang cukup, sementara kader HMI tidak siap
secara financial. Ribuan kader HMI terlanjur melirik politik pada satu sisi dan
meninggalkan sisi professional.
Imbasnya secara menyeluruh
HMI menjadi semacam sekedar gerbong penghasil para politisi yang tidak kreatif
dan hanya berpasrah dan berharap menjadi politisi tanpa memikirkan bahwa
politisi hari ini adalah politisi yang harus kuat secara financial. Pada hal
sesungguhnya jika kita melihat makna filosofis pengkaderan di HMI, HMI adalah
organisasi yang idealnya mengarahkan kadernya untuk berkiprah pada berbagai
bidang dan profesi. Trend hari ini adalah ternd wirausaha yang mau tidak mau
kalau HMI tidak berupaya melirik ini, HMI akan tertinggal. Sebab kalau pun
harus jadi politisi kader HMI tidak bisa hanya mengandalkan modal sekadar
menjadi organisatoris yang baik.
Kondisi ini sesungguhnya
telah meresahkan banyak kalangan di HMI, bahkan akibat terjadi pergeseran
paradigma ini cak Nur sempat melontarkan kekesalannya, bahwa ? Bubarkan saja
HMI?. Menurut Azumardy Azra jika HMI tidak berani untuk menguliti dirinya dan melakukan
Reaasesment total terhadap keberadaan dirinya, maka HMI akan sulit untuk
bertahan.
HMI secara institusi
bukannya tidak menyadari ini, namun kuatnya mind set politik yang telah menjadi
semacam trend budaya dalam organisasi mengakibatkan tampilan HMI hari ini
menjadi semacammacan ompongyang Cuma
bisa mengaum tapi tidak berdaya untuk menggigit.
Prinsipnya HMI harus
berubah, cara pandang politik di HMI harus digeser pada ranah politik
intelektual, HMI tidak boleh masuk pada ranah politik praktis sebab HMI adalah
organisasi kader bukan organisasi politik. Sudah saatnya orientasi kader-kader
HMI diarahkan pada berbagai segi. HMI harus mampu beradabtasi dan menjadi
kreatif ditengah perubahan yang kian cepat .
Dari semua gambaran di atas
sesungguhnya jika HMI ingin tetap bertahan HMI harus berani melakukan
Reassesment total terhadap dirinya. Setidaknya ada tiga hal yang harus
dilakukan
1.HMI harus
merombak secara total pola pengkaderan yang ada saat ini, sebab kurikulum yang
ada sudah tidak kompetibel dengan abad 21 dimana HMI terjebak hari ini
2.HMI
adalah organisasi mahasiswa, otomatis basisnya adalah kampus, HMI harus
dikembalikan ke Kampus. Konsep Back to Campus bukan sekedar diwacanakan tapi
harus diimplementasikan ke dalam kampus. HMI harus mampu menjadi organisasi
yang tidak hanya membentuk kader-kadernya pada satu tipe (baca poiltik) tapi
lebih terbuka sehingga mahasiswa mau melirik HMI. Karena tuntutan zaman saat
ini mendorong setiap orang untuk lahir sebagai orang-orang yang professional.
Kalau HMI tidak menawarkan kemandirian dan penguatan profesionalisme bagi
mahasiswa di kampus, maka wajar kalau HMI tidak lagi menarik
3.HMI harus
melakukan modernisasi organisasi, modernisasi yang dimaksud mencakup system,
manajemen dangayakepemimpinan. Dalam era moderen kepemimpinan, manajemen dan system
dalam pengelolaan organisasi harus mampu menghadirkan ruang efektifitas dan
efisiensi. Trend perkembangan teknologi informasi dan komunikasi harus
diimplementasi dalam pengelolaan oragnisasi. HMI harus mulai berani bicara
kesenjangan digital, bicara teknologi bahkan mungkin HMI harus berani melakukan
digitalisasi didalam organisasinya
Kalau ini tidak dilakukan
maka, HMI akan tampil sekedar menjadi organisasi yang tidak lagi memberi makna
bagi bangsa dan ummat, malah justeru menjadi beban. Seperti tadi sudah saya
katakan diawal bahwa HMI ibarat macan ompong hanya bisa mengaum tapi tidak bisa
menggigit, ini sebuah otokritik bahwa kalau HMI ingin mengembalikan misi
organisasi pada khitah HMI, maka HMI harus berani menerima ini sebagai cambuk.
Kami menyadari bahwa keresahan ini bukanlah monopoli tunggal, tapi semua kader
HMI memiliki keresahan yang sama, semoga apa yang kami sampaikan dalam tulisan
ringkas ini bisa mewakili keresahan sebegian kader HMI yang masih berpikir
bahwa HMI masih bisa berubah.
Karena jasanya dalam mendamaikan konflik di
Ambon, Poso, dan Aceh, Mantan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla Sabtu
(1/10/2011), menerima penghargaan sebagai Tokoh Perdamaian Dunia.
Penghargaan tersebut dterima JK dari Forum Pemuda Dunia untuk Perdamaian
di Ambo, Maluku.
Penghargaan tersebut wajar mengingat Ketua Umum PMI ini, selalu aktif
dalam mendorong terciptanya perdamaian, bahkan tidak segan-segan untuk
turun langsung ke daerah konflik. Penghargaan disampaikan Wakil
Presiden World Assembley of Youth (WAY), yang sekaligus Ketua Dewan
Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Ahmad Doli
Kurnia. Penghargaan serupa diberikan kepada Gubernur Maluku Karel
Albert Ralahalu, atas perannya dalam perdamaian di kawasan kepulauan
itu.
Jusuf Kalla sendiri berterima kasih atas penghargaan tersebut.
Menurunya, itu bentuk dukungan bagi bangsa Indonesia untuk terus
menyelesaikan masalah dengan membuat perdamaian dan melestarikannya.
Mantan orang nomor dua RI ini, juga mengajak bangsa Indonesia untuk
menyelesaikan masalah yang muncul, termasuk konflik, dan tidak
menghindarinya. "Jika dihindari masalah itu justru bisa datang
menyergap pada suatu waktu nanti," ujarnya. (asw)
Tepat di akhir masa kepengurusan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum
PB Himpunan Mahasiwa Islam (HMI) pada 1999, banyak mahasiswa Lampung
secara sadar tertarik untuk menjadi kader HMI Cabang Bandar Lampung.
Pada masa itu, sosok Anas menjadi primadona kader-kader muda HMI. Bukan
hanya karena posisinya sebagai Ketua Umum PB HMI, tetapi juga berkat
kemampuan retorikanya yang artikulatif plus kemampuan menulis yang
mumpuni. Tidak salah jika akader-kader muda HMI kala itu menjadikan
sosok Anas sebagai idola baru.
Anas Urbaningrum adalah Idola baru setelah berakhirnya generasi
Nurcholish Madjid atau Cak Nur sebagai “perpustakaan berjalan” HMI. Pada
awalnya semua menduga bahwa pilihan Anas pasca HMI adalah dunia
akademik sebagai begawan kultural yang mencerahkan masyarakat dan
menjadi cermin bagi elit politik untuk tetap berkhidmat di track yang
benar, seperti apa yang dilakukan sosok Cak Nur semasa beliau hidup.
Ternyata kemudian Anas memilih menjadi seorang politisi. Partai
Demokrat entah kenapa menjadi pelabuhan hati seorang Anas. Apakah
pilihan ini adalah bagian dari upaya Anas menyebarkan benih-benih
ideologi Nasionalis-Religius HMI atau ada pertimbangan yang lain, hanya
Anas yang tahu.
Dugaan korupsi Partai Demokrat
BEBERAPA kasus dugaan korupsi yang akhir-akhir ini diduga menimpa
kader Partai Demokrat perlu menjadi catatan dan tanggapan serius dari
Anas. Sebab, ini soal reputasi dan citra partai. Sebagai ketua umum,
Anas mesti segera mengambil tindakan konkret untuk segera menyelesaikan
persoalan tersebut. Jika tidak, dapat dipastikan hal ini akan berdampak
terhadap loyalitas konstituen Demokrat yang selama ini mempunyai
ekspektasi luar biasa bagi pemberantasan korupsi di negeri ini.
Persoalan ini hendaknya jangan dipandang remeh oleh Anas karena
justru turning point kepemimpinan Anas akan diukur dari kasus kasus yang
sifatnya internal seperti ini. Jika pada titik ini Anas berhasil
mengatasi, maka publik akan menilai positif terhadap kematangan Anas
sebagai kandidat pemimpin masa depan negeri ini. Namun bila sebaliknya,
maka potensi konflik akan terus dipelihara dan dibiarkan begitu saja.
Akibatnya, riak-riak ketidakpercyaan kader Demokrat terhadap
kepemimpinan Anas akan mencuat.
Harus diakui Anas sebenarnya belum memiliki jam terbang yang cukup
untuk memimpin partai besar, apalagi ini sebagai the rulling party
(partai penguasa). Namun suka atau tidak suka, problem ini mesti segera
dibenahi. Anas harus mulai bergerak menjadi leader dan bukan hanya
sekedar konsolidator. Inilah sejatinya problem kepemimpinan Anas di
Demokrat.
Pertemanan pribadi yang berubah menjadi pertemanan politik (Anas
banyak membawa masuk rekan-rekan aktivis mahasiswa pada eranya menjadi
pengurus inti Demokrat) pada satu sisi ibarat mata pisau yang bisa
bermanfaat dan juga bisa membuat posisi Anas sekarat. Kecemburuan faksi
tradisional dalam tubuh Demokrat terhadap koneksi baru harus Anas
antisipasi. Jika tidak, hal ini lagi-lagi akan menjadi bomerang.
Kehadiran sosok Anas awalnya dianggap sebagai jalan tengah di antara
kebuntuan Andi Malarangeng dan Marzuki Ali. Politik kompromistis
terlihat kental sekali dalam terpilihnya Anas sebagai Ketua Umum
Demokrat. Secara umum Anas mempunyai personalitas yang baik dan tingkat
akseptabilitas di atas rata-rata pemimpin gaek politik Tanah Air,
seperti Megawati (PDIP), Aburizal Bakrie (Golkar), atau bahkan sosok
Prabowo (Gerindra) sekalipun. Sebuah jajak pendapat yang dilalkukan
Survey Inspire beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa Anas dipandang
publik sebagai figur potensial pemimpin masa depan Indonesia.
Namun, sekali lagi hal ini akan bergantung kepada kemampuan Anas
mengatasi problem internal serta “serangan” eksternal terhadap
eksistensi Demokrat, apalagi pada 2014 sosok SBY yang selama ini secara
tradisional menjadi mesin politik Demokrat tidak akan maksimal lagi.
Jadi, masa depan Demokrat pada tingkat tertentu bergantung kepada
bagaimana Anas membumikan citra positif Demokrat dengan kemampuan
kepemimpinan yang dimiliki oleh Anas itu sendiri.
Jika Anas gagal melakukan hal itu, maka Partai Demokrat akan tinggal
nama besar, sebuah partai yang di masa depan hanya akan dikenang
sebagai partai yang pernah berkuasa di Republik ini.
Penulis adalah Dosen Ilmu Politik Universitas Lampung dan Direktur
Lembaga Kajian Politik, Publik, dan Demokrasi KAHMI Lampung*.