• Bersama Peserta LK III Sulselbar dari Berbagai Cabang di Indonesia
  • Peserta LK II Bersama Kakanda Ir. H. Abd. Kahar Muzakkar (Anggota DPD RI)
  • Peserta LK II HMI Cab.Makassar Timur dari Berbagai Cabang diIndonesia
  • Peserta LK I Bersama Pengurus Komisariat Periode 2011-2012
  • Kohati HMI Cab. Makassar Timur Bersama Kakanda Akbar Tandjung
  • Peserta LK II HMI Cab. Makassar Timur Bersama Fadly Zon (Sekjen Partai Gerindra)
  • Kohati HMI Cab. Makassar Timur Bersama Fadly Zon (Sekjen Partai Gerindra)
  • Angkatan I HMI Kom. Stikes NHM Bersama Kanda Ryza Fardiansyah (Ketum HMI Cab. Makassar Timur Periode 2010-2011)
  • Peserta Gender Camp dari Berbagai Komisariat Sejajaran Makassar Timur yang diadakan di Ta'deang Maros
  • Peserta LK II HMI Cab.Makassar Timur dari Bersama Kakanda Akbar Tandjung

Senin, 11 Juni 2012

Politik dan Sepak Bola

Perbincangan tentang Piala Eropa 2102 tak ubahnya perbincangan isu-isu politik nasional. Di manamana selalu jadi perdebatan menarik, hangat, dan seksi. Masyarakat Indonesia yang dikenal sangat menggandrungi permainan si kulit bundar ikut bersemangat, bergembira, dan berbicara.

Mulai warung kopi, sosial media, dalam forum tertentu, kalangan politisi, hingga penghuni istana pun ikut membicarakan Piala Eropa 2012. Pada titik ini, setiap orang tentu akan mengunggulkan masing-masing tim kesayangannya, dengan beragam argumen. Sudah pasti dijamin seru. Dalam waktu tiga minggu, kita akan menyaksikan 16 negara terbaik dari benua Eropa berlaga di Polandia-Ukraina, dua negara sebagai panitia ajang empat tahunan ini.
 
 

Tak menutup kemungkinan bila gegap gempita dalam merebut trofi Henry Delaunay bisa membuat kita sejenak melupakan hiruk-pikuk politik, termasuk aneka problem yang tengah melilit negeri ini. Seakan aksi para bintang dunia di lapangan hijau yang kita tunggu-tunggu bakal menyihir para pencinta sepak bola dunia, khususnya rakyat di republik ini. Secara kasatmata, kita sepakat bahwa sepak bola (baca Piala Eropa 2012) berbeda dengan panggung politik.

Dua-duanya bisa melahirkan berbagai kemungkinan. Namun, perbedaan itu bisa tertutup dengan berbagai hal yang menjadi persamaan antara politik dan sepak bola. Sejarah telah mencatat setidaknya dalam empat kali terakhir gelaran Piala Eropa, Jerman (juara Piala Eropa 1996), Perancis (kampiun Piala Eropa 2000), Yunani (jawara Piala Eropa 2004), dan Spanyol (pemenang Piala Eropa 2008) telah menunjukkan diri sebagai tim terbaik dan terhebat di jagat Eropa.

Lantas, di mana benang merah politik dan sepak bola? Negara yang berhasil masuk putaran final Piala Eropa 2012 adalah tim sepak bola yang telah melewati fase kualifikasi selama tiga bulan. Mereka menjalani dari satu pertandingan ke pertandingan lain untuk berebut tiket ke Polandia-Ukraina, dengan menyingkirkan para pesaingnya. Selain itu, beberapa tim juga melakukan uji coba dengan negara maupun klub sepak bola lain guna mengukur kekuatan dan kesiapannya bertarung di Piala Eropa 2012.

Proses ini menjadi penting dilewati untuk membuktikan siapakah yang menjadi terbaik. Perjalanan sepanjang kualifikasi dan laga persahabatan sesungguhnya menjadi catatan penting bagi pelatih, ofisial tim, dan pengurus sepak bola. Untuk kepentingan pembentukan tim nasional, pelatih harus memilih dan memanggil pemain-pemain berkualitas dengan spesifikasi berbeda secara ketat dan selektif.

Setiap pemain dicermati profil pribadi, pengalaman, dan kemampuan pribadinya diukur dalam memainkan bola. Pelatih dengan dibantu para ofisial tim, berkuasa penuh untuk menentukan nama-nama pemain yang akan membela negaranya. Sebaliknya, pelatih pun harus siap menerima kritik dan suara sumbang bilamana ada pemain bertalenta yang tidak masuk skuad timnas.

Tanggung jawab dan tugas pelatih selanjutnya bertambah berat. Pelatih harus mampu mengonsolidasikan pasukannya, menciptakan komunikasi dan relasi efektif, menyusun strategi sekaligus meracik taktik jitu supaya timnya sanggup memenangi setiap pertandingan. Dalam proses konsolidasi tim, hal yang paling penting bagi pelatih adalah kemampuannya mengontrol emosi pemain-pemain bintang.

Sering kali pemain-pemain tenar memiliki ego lebih tinggi dibanding pemain-pemain yang baru masuk timnas, sehingga pelatih berkewajiban menciptakan tim kuat, solid, dan cenderung tidak menonjolkan individu-individu, mengingat sepak bola adalah kerja kolektif. Sekadar contoh. Pelatih Spanyol pada Piala Eropa 2008, Luis Aragones, berhasil mengantarkan Spanyol menjuarai Piala Eropa 2008.

Kunci keberhasilan Aragones sesungguhnya terletak pada kemampuan individunya yang menyatukan seluruh potensi di tim menjadi satu kekuatan utuh. Padahal, jika kita sedikit menilik ke belakang, beberapa pemain di timnas Spanyol kerap bermusuhan ketika mereka main di klub yang berbeda di La Liga. Di bawah asuhan Aragones, dendam pribadi dan persaingan antarpemain di klub mampu diminimalisasi.

Semuanya bersatu demi nama harum dan kejayaan negaranya. Pelatih memang bukan satu-satunya pihak yang ikut mendorong dan bertanggung jawab terhadap suksesnya timnas bisa berlaga di Piala Eropa 2012. Di luar itu, beban dan tugas sepak bola ada di pundak pengurus. Negara-negara yang mempunyai tradisi sepak bola dengan trade mark tertentu yang selama ini merajai berbagai kompetisi sepak bola dunia, sejatinya telah melakukan pembinaan dan kaderisasi para pemain sepak bola secara baik dan berjenjang.

Proses kaderisasi itu membuat mereka tidak akan pernah kekurangan stok pemain andal dan mumpuni, sebab bibitbibit baru terus bermunculan. Kehebatan dan kejeniusan pelatih dalam membentuk timnas dan menyusun strategi ampuh serta proses kaderisasi pemain yang terukur dari asosiasi sepak bola sebetulnya seirama dengan panggung politik.

Dalam ranah politik, proses konsolidasi, komunikasi, kaderisasi, dan penyusunan taktik jitu menjadi unsur-unsur penting yang tidak boleh dinafikan. Bahwa kemudian dalam permainan sepak bola dan politik ditemukan hal-hal yang memicu adrenalin meningkat, membuat kening berkerut atau memunculkan kritik pedas.

Maka itu, hanyalah bagian dari trik dan pengaturan ritme permainan. Pada akhirnya, perjalanan panjang sepak bola dan politik memiliki tujuan akhir yang sama, yakni demi meraih kemenangan secara terhormat.
Selengkapnya...

Selasa, 01 Mei 2012

Meneropong Wajah Pendidikan Indonesia


Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru…yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan…atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan…Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar…sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala. Guru, digugu dan ditiru….Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya…sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.
 

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya telah menjadi momentum untuk memperingatkan segenap negeri akan pentingnya arti pendidikan bagi anak negeri yang sangat kaya ini. Di tahun 2003, telah dilahirkan pula Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional melalui UU No. 20 tahun 2003 yang menggantikan UU No. 2 tahun 1989. Tersurat jelas dalam UU tersebut bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, tersebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UU No. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus, warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus serta setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.

Peran masyarakat dalam pendidikan nasional, terutama keterlibatan di dalam perencanaan hingga evaluasi masih dipandang sebagai sebuah kotak keterlibatan pasif. Inisiatif aktif masyarakat masih dipandang sebagai hal yang tidak dianggap penting. Padahal secara jelas di dalam pasal 8 UU No. 20/2003 disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Peran serta masyarakat saat ini hanyalah dalam bentuk Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, dimana proses pembentukan komite sekolahpun belum keseluruhannya dilakukan dengan proses yang terbuka dan partisipatif.

Kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan dasar pun hingga saat ini masih sangat jauh dari yang diharapkan. Masih terlalu banyak penduduk Indonesia yang belum tersentuh pendidikan. Selain itu, layanan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan bermutu pun masih hanya di dalam angan. Lebih jauh, anggaran untuk pendidikan (di luar gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan) di dalam APBN maupun APBD hingga saat ini masih dibawah 20% sebagaimana amanat pasal 31 ayat 4 UUD 1945 dan pasal 49 UU No. 20/2003, bahkan hingga saat ini hanya berkisar diantara 2-5%.

Bila melihat peristiwa yang belum lama terjadi di Indonesia, misalnya kasus tukar guling SMP Negeri 56 Jakarta serta kasus Kampar adalah sebongkah cerminan dari kondisi pendidikan di Indonesia, dimana kalangan pendidik dan kepentingan pendidikan masihlah sangat jauh dari sebuah kepentingan dan kebutuhan bersama, dimana pendidikan masih menjadi korban dari penguasa. Sementara di berbagai daerah, pendidikan pun masih berada dalam kondisi keprihatinan. Mulai dari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan hingga sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Pada beberapa wilayah, anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah harus membantu keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup karena semakin sukarnya akses masyarakat terhadap sumber kehidupan mereka.

Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan pula karena paradigma pemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya ditumbuhsuburkan di Indonesia.

Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakanpun cenderung menggunakan indikator kepintaran, sehingga secara nilai di dalam rapor maupun ijasah tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tengah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini.

Pendidikan juga saat ini telah menjadi sebuah industri. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang sebagai upaya membangun pemberontakan.

Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Sistem pendidikan yang mengebiri ketiga hal tersebut hanyalah akan menciptakan keterpurukan sumberdaya manusia yang dimiliki bangsa ini yang hanya akan menjadikan Indonesia tetap terjajah dan tetap di bawah ketiak bangsa asing.

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana sistem pendidikan di Indonesia menciptakan anak bangsa yang memiliki sensitifitas terhadap lingkungan hidup dan krisis sumber-sumber kehidupan, serta mendorong terjadinya sebuah kebersamaan dalam keadilan hak. Sistem pendidikan harus lebih ditujukan agar terjadi keseimbangan terhadap ketersediaan sumberdaya alam serta kepentingan-kepentingan ekonomi dengan tidak meninggalkan sistem sosial dan budaya yang telah dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Hari Pendidikan Nasional tahun ini di tengah-tengah pertarungan politik Indonesia sudah selayaknya menjadi sebuah tonggak bagi bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan serta lepasnya Indonesia dari ?penjajahan?? bangsa asing. Sudah saatnya Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan sebuah kesejahteraan sejati bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Selengkapnya...

Senin, 09 April 2012

Siapa Pengkhianat Sesungguhnya ?


Beberapa waktu lalu sidang paripurna membahas kenaikan BBM berlangsung dan memutuskan kalau BBM tidak dinaikkan (batal dinaikkan) dan menyisahkan beberapa moment fenomenal untuk diperbincangkan.  Perdebatan yang alot tentang pasal 7 ayat 6 dan tambahan ayat yang memberikan keluasaan pemerintah menaikkan harga BBM membuat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyatakan walk out dari ruang sidang karena sudah tidak relevan lagi dengan kesepakatan partai, sampai  akhirnya opsi kedua yang didukung mayoritas peserta sidang. Selang dua hari kabar tidak sedap menghinggapi telinga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terkait ketidakonsistenannnya dalam menyatakan pendapat dan memberikan putusan terkait pandangan PKS tentang kenaikan BBM yang menolak secara tegas, mengingat PKS adalah anggota koalisi pemerintahan SBY Jilid II.  PKS dianggap membangkan terhadap pemerintahan SBY dan kroni-kroninya, selain itu PKS dinyatakan melanggar beberapa point dalam kontrak politik yang ditanda tangani enam pimpinan partai koalisi termasuk PKS. Dalam kontrak politik sendiri dinyatakan bahwa parpol harus mem-back up secara penuh keputusan yang ditetapkan pemerintah terhadap suatu kebijakan dan apabila menolak parpol yang bersangkutan harus mengundurkan diri dan otomatis out dari koalisi.



Bukan tanpa alasan PKS membelot terhadap pemerintah dan anggota koalisi, namun keputusan yang diambil sudah dipikirkan secara matang. Ketua Umum DPP PKS Mahfudz Ziddiq menyatakan bahwa PKS tidak mencurangi pemerintah dan hanya membela kepentingan rakyat, bukan tidak mungkin ketika BBM dinaikkan saat kondisi rakyat seperti ini, citra SBY yang menurun jelas akan lebih menurun jika BBM tetap dinaikkan dan untuk perbaikan struktur pemerintahan SBY yang tidak lama lagi akan ditinggalkannya. Kegerahan terhadap PKS nampaknya ditunjukkan oleh anggota koalisi lainnya yaitu dari fraksi PPP, entah karena ingin meraih perhatian pemerintah atau karena alasan yang lainnya menyatakan kalau “PKS sudah tidak pantas duduk di kursi koalisi sebab sudah ada beberapa black list dalam menolak putusan pemerintah antara lain kasus century, kasus mafia pajak dan kenaikan BBM,” tegas Surya Dharma Ali. Namun pembelaan lain dilontarkan dari Presiden PKS Lutfie Hassan Ishaq, ia menyatakan bahwa “PKS hanya mengingatkan pemerintah tentang keadaan rakyatnya sekarang. Dan PKS tidak seperti anak kandung pemerintah yang dikasihani untuk menduduki kursi menteri, namun PKS bekerja keras sebagai tim pemenangan SBY Jilid II ini. Intinya PKS tidak akan keluar sampai ada kata cerai dari SBY sebagai penentu nasib PKS, pun PKS dikeluarkan kita tidak akan menolak atau mengajukan somasi, kita legowo”.

Memang tidak ada lawan dan kawan yang abadi dalam politik, keputusan PKS untuk “mengkhianati” koalisi perlu dipahami secara mendalam. Koalisi dibentuk untuk kepentingan rakyat bukan kepentingan penguasa, jadi ketika PKS berseberangan dengan kesepakatan koalisi bukan berarti menantang pemerintah namun justru menyelamatkan pemerintah sebagai perpanjangan tangan dari rakyat, pemerinyah harusnya mensejahterahkan rakyat bukan menyensarakannya. Nasib PKS tinggal menghitung hari dan sudah berada diujung tanduk, langkah selanjutnya adalah jika memang PKS dikeluarkan apakah mengubah jalurnya menjadi oposisi ?? Akan tetapi, ketika masih dipertahankan dimanakah ketegasan seorang SBY yang notabene PKS sebagai anggota koalisi “nakal” yang beberapa kali menyatakan sikap berseberangannya, Pertanyaannya kemudian Siapakah yang berkhianat ?? Apakah PKS yang tidak konsisten dan menusuk dari belakang anggota koalisi lainnya karena tidak mendukung putusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM ?? atau anggota koalisi yang berkhianat terhadap rakyat untuk tetap menaikkan harga BBM ditengah masyarakat yang dipusingkan dengan dinamika ekonomi, sosial, dan krisis multidimensional yang kian hari kian  terpuruk..??

Dalam konteks kekinian, mayoritas masyarakat kaum buruh, tani, dan rakyat miskin kota peduli dengan masalah ini ?? Sama sekali tidak !! yang mereka pikirkan bagaimana bisa mendapatkan sesuap nasi untuk hari esok, pemerintah seharusnya tidak sibuk berspekulasi dengan berbagai masalah konyol, tidak jelas, serta pengalihan isu lainnya, Intinya jangan seperti perkutut yang saling patuk-mematuk atau cecurut yang hanya bisa kentut, tapi sibuk memikirkan nasib rakyatnya yang penuh carut marut yang sudah berlarut-larut dari berbagai sudut dan hanya disuguhkan dengan atribut yang berbuntut pada hasil yang keriput. Kekayaan alam dan budaya akan terdepresiasi oleh waktu yang terbuang percuma, pertambahan jumlah penduduk yang tidak terkendali, tingkat kesadaran sosial yang rendah serta perilaku penguasa yang korup dan sebagainya.  Selain itu, Kebanggaan sebagai bangsa berdaulat telah terkikis oleh menguatnya perilaku feodalistik, nepotisme negatif dan demokrasi vandallistik. Sanggupkah pemerintah mewujudkan bangsa yang berkiblat pada Pancasila dan UUD 1945, dengan bahasa verbal dan ideologis yang satu serta dengan segenap daya memelihara sumber-sumber kehidupan yang ada di bumi pertiwi yang satu ini ? Semua jawaban akan kembali kepada setiap individu yang menyatakan diri sebagai anak-anak bangsa Indonesia. Pemuda adalah refleksi sebuah generasi.

“…Dihati dan lidahmu kami berharap, suara kami tolong dengar lalu sampaikan, jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam...saudara dipilih bukan dilotre, meski kami tak kenal siapa saudara, kami tak sudi memilih para juara, juara diam, juara he’..he’..he’.., juara ha..ha..ha..
                                         Iwan fals (surat buat wakil rakyat)
Selengkapnya...

Selasa, 20 Maret 2012

Gerakan Mahasiswa, Gerakan yang Berpihak

Bulan Februari sebagai bulan lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) . Tepat ketika Pemuda bernama Lafran Pane mendeklarasikan gerakan alternatif  untuk mengubah mindset mahasiswa yang ada di kampus-kampus agar Islam tetap menjadi way of life mereka untuk komitmen akan keIslaman sekaligus untuk penyadaran gerakan bahwa penjajahan di bumi Indonesia harus dihapuskan dengan metode yang dipakai HMI.


Dengan azas Islam, HMI bersatu-padu mengumpulkan pemuda (baca: Mahasiswa) untuk mendudukkan kembali visi amar ma’ruf nahi munkar atau sebagai agen perubahan. Atas simpul-simpul keummatan dan kebangsaan yang semakin terancam eksistensinya. Bagaimana tidak, umat Islam sudah mulai hilang jati dirinya. Sebagai panutan untuk melakukan “Vision of Islam” atau cita-cita Islam sebagai pemimpin, pendidik dan teladan semakin tergerus dengan mazhab materialisme  dan split of personality (kepribadian yang terbelah) berupa penyakit internal yaitu kedengkian terhadap sesama yang berakibat pada penghancuran diri, sehingga menyebabkan gerakan mandek.


Jika HMI ingin terus berjaya sebagai gerakan mahasiswa, maka faktor evaluasi diri sebagai gerakan Islam dengan terus mempelajari dasar-dasar Islam, sejarah keIslaman, dan akhlaq harus ditanamkan seja dini. Hal itu sebagai pondasi untuk menghadapi faktor eksternal ummat Islam yang terus mengekspansi dari kekuatan ekonomi, politik, dan kebudayaan mengobrak-abrik tata-sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan aktivis, pasca aktifis, hingga alumni HMI semakin lupa akan ke-HMI-annnya dan semakin larut akan kerusakan hari ini.


Awal berdirinya HMI sebagai gerakan untuk membebaskan bangsa dari keterjajahan Belanda yang masih menancapkan kekuasaan di bumi Indonesia. Dengan semangat ini memulai. HMI seharusnya menjadi garda terdepan untuk menyuarakan penentangan pada ketidakadilan yang menyangkut sistem bangsa yang semakin hari semakin akut. Bukan diam tanpa sikap akibat kerja-kerja teknis organisatoris kepengurusan dengan alasan lagi fokus di internal. Sehingga organisasi mandek. Atau sebaliknya. aktivis HMI terjebak dalam aksi-aksi politis praktis yang ujung-ujungnya kepentingan pribadi sehingga visi organisasi ditarik dalam kepentingan pribadi, yaitu uang dan kedekatan dengan penguasa.


Jika tidak ingin kehilangan visi seperti di atas, maka gerakan harus segera putar kompas 180 derajat yaitu menjadi gerakan  protes atas fenomena yang terjadi di dunia gerakan, atas telikung kepentingan dan politik negeri kita yang terus menjadi boneka dari negara lain. Kita selalu dijajah dan terus belum merdeka hingga hari ini. Gerakan protes hendaknya menjadi visi. Bagaimanapun hari ini aksi yang dilakukan oleh HMI harus menjadi representasi kebutuhan rakyat akan bersatunya mahasiswa dengan gerakan buruh, petani dan masyarakat kota yang terpinggirkan oleh sistem penjajahan model baru bernama kolonialisasi, imperealisme, korupsi, gaya hidup hedonis kaum elit dan kondisi negara yang tidak lagi berpihak pada masyarakatnya.


Pernyataan sikap untuk membela yang tertindas dan melawan ketidakadilan harus tetap disuarakan dalam setiap level tingkat ke-HMI-an. Serta bangunan-bangunan strategis untuk melakukan advokasi-advokasi masyarakat terus diciptakan agar apa yang dicita-citakan pada akhirnya akan tercapai dengan gerakan rakyat, bukan gerakan wacana yang mengatasnamakan gerakan intelekual ataupun gerakan peradaban.


Aksi rakyat adalah imbas dari kebijakan yang tidak memihak pada yang terpinggirkan sehingga dalam jangka panjang, proyeksi ini segera tidak diantasipasi oleh negara maka yang terjadi adalah pemiskinan dan pembodohan yang tidak terelakkan oleh rakyat, terutama komunitas yang semakin tidak peka terhadap penyakit sosial yang menimpa kehidupan.Semua telah tersandera dengan pemiskinan, korupsi dan pembodohan. Gerakan HMI harus menjadi pioneer atas permasalahan-permasalahan yang terjadi di negeri ini. Bukan lari mencari titik aman. Mencari visi elitis yang gundah akan diri tetapi lupa akan kondisi sosialnya. Sehingga gerakannya adanya seperti tidak ada. Semua mencari pembenaran untuk lari dalam pertapaan dan mencari pembenaran agar HMI tidak gusar melihat realitas sosial yang galau.


HMI Sebagai agen kontrol sosial hendaknya menjadi pemicu pemahaman atas kondisi kemahsiswaan yang semakin hari semakin instan dan glamour dalam gaya hidup. Tentu permasalahan utamanya dapat dijadikan pedoman bahwa ekspansi budaya konsumerisme melalui iklan ataupun jenis media yang lain mengakibatkan perubahan cara pikir dengan cara instan. Sehingga melahirkan generasi-generasi lemah dalam menangkap moment dalam usaha pembahasan terhadap bangsa semakin tidak dapat berpihak.


Dalam jangka panjang generasi anak bangsa akan menjadi anak bangsa yang mengekor atas model ekspansi bangsa lain. Dalam konteks diskusi ini adalah apa yang hadir pada bangsa ini tidak menjadi pilihan atau jalan hidup yang perlu diperjuangkan sekaligus dilestarikan sehingga dampak politik dan ekonomi akan menjadi bangsa pengekor atas bangsa lain. Bahkan pelestarian budaya melalui gerakan visi inteletualisme organisasi akan terjadi jika, apa yang menjadi gerakannya tertuju pada upaya pembelaan bukan  visi yang mengambang bukan tanpa ruh. Seperti visi hari ini berupa peradaban. Yang tidak bisa ditangkap elan vitalnya, ber-hmi.


Titik pointnya adalah kontinuitas, dalam melaksanakan visi perkaderan yang dimiliki oleh HMI secara independent. Yaitu berupa penataan nilai keislaman yang terus menjadi ilham dari kader HMI dalam memperjuangkan apa yang menjadi gerak untuk menata kehidupan sosial di manapun mereka berada, serta daya kreatifitas untuk menegakkan visi amar ma’ruf nahi munkar adalah jalan alternatif untuk memperbaiki tatanan sosial yang semakin terpuruk. Siapapun statusnya kader, pengader, pasca kader, hingga alumni sekalipun. Semua bersatu untuk menjunjung visi pembebasan yang berpihak pada yang terlemahkan.


Sumber embrio tertinggi bagi lahirnya gerakan sosial yang bervisi pada perubahan adalah langkah awal untuk menyatukan visi intelektualisme, spiritualisme, dan berpihak pada yang terlemahkan adalah suara hati HMI untuk menata kembali kondisi yang sakit hari ini. Dapat bangun kembali menata sejarah keummatan dan kebangsaan menuju “Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur” negeri yang sejahtera, makmur  dan mendapat ampunan dari tuhan seru sekalian alam.


Tentu dalam setiap visi, misi dan program, dibangun agar capaian-capaian yang ditargetkan dapat memberikan andil atas evaluasi diri, himpunan, dan kebangsaan dapat terukur dengan sembari menyusun kekuatan membangun jaringan kemahasiswaan, kemasyarakatan, kenegaraan, untuk tetap mengemban amanah sebagai manusia yang memiliki visi sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.


*Kornas Korps Pengader Nasional HMI

Selengkapnya...

Senin, 05 Maret 2012

Ibrahim Bapak Tauhid Umat Manusia

Mengapa ada pemujuaan terhadap makhluk ???


Faktor-faktor yang menimbulkan penyembahan manusia kepada ciptaan adalah ketidaktahuannya dan tuntutan alami yang mutlak dalam dirinya yang pada umumnya mempercayai adanya suatu penyebab bagi setiap fenomena. Di satu sisi, manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami, merasa harus mencari perlindungan di suatu tempat, pada suatu pewenang kuat yang mampu menciptakan sistem yang unik ini. Namun, di sisi lain, ketika ia bermaksud menempuh jalan ini tanpa tuntunan para nabi -pemandu Ilahi dan telah ditunjuk untuk menjamin kesempurnaan perjalanan rohani manusia- ia mencari perlindungan pada makhluk-makhluk tak-bernyawa, hewan, ataupun sesama manusia sebelum ia dapat mencapai tujuannya yang sesungguhnya, yakni Tuhan Yang Esa, dan mendapatkan jejak-jejak-Nya dengan mengamati tanda-tanda penciptaan dan mencari perlindungan pada-Nya. 

Oleh karena itu, ia membayangkan bahwa inilah obyek yang dicari-carinya. Melihat ini, para ilmuwan mengakui, setelah mengkaji kitab-kitab Ilahi dan cara bagaimana dakwah disampaikan kepada manusia oleh para nabi serta argumentasi mereka, bahwa tujuan para nabi bukanlah untuk meyakinkan manusia tentang adanya pencipta alam semesta. Sesungguhnya, peran mereka yang mendasar ialah membebaskan manusia dan cengkeraman syirik (politeisme) dan penyembahan berhala. Dengan kata lain, mereka datang untuk mengatakan kepada manusia, "Hai manusia! Allah yang kita semua percaya akan keberadaan-Nya adalah ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang. Jangan memberikan status Allah kepada makhluk. Terimalah Allah sebagai Yang Esa. Jangan menerima mitra atau sekutu apa pun bagi-Nya."


Kalimat "tiada Tuhan selain Allah," membuktikan apa yang kami katakan di atas. Inilah titik mula dakwah Nabi Muhammad. Maksud kalimat ini ialah, tak ada sesuatu yang patut disembah selain Allah, dan ini berarti bahwa adanya Pencipta telah merupakan fakta yang diakui, sehingga manusia dapat diajak untuk menerima kemaha-esaan-Nya. Kalimat ini menunjukkan bahwa di mata manusia zaman itu, bagian pertama –adanya Tuhan yang menguasai alam semesta- bukanlah hal yang perlu dipertengkarkan. Disamping itu, kajian terhadap kisah-kisah Qur'ani dan percakapan para nabi dengan umat zamannya memperjelas masalah ini.
[Catatan kaki: Tetapi, bagaimana konsepsi mereka tentang berhala? Apakah mereka memandangnya patut disembah dan hanya untuk menjadi perantara, ataukah mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu pun mempunyai kekuasaan seperti Allah? Masalah ini berada di luar bahasan kita sekarang, walaupun pandangan pertama itu kuat dan terbukti.]


TEMPAT KELAHIRAN NABI IBRAHIM

Jawara Tauhid ini dilahirkan di lingkungan gelap penyembahan berhala dan penyembahan manusia. Manusia menundukkan kerendahan hati kepada berhala yang dibuat dengan tangannya sendiri, atau kepada bintang-bintang. Dalam situasi ini, hal yang mengangkat kedudukan Ibrahim dan menyukseskan usahanya adalah kesabaran dan ketabahannya.Tempat kelahiran pembawa panji tauhid ini adalah Babilon. Para sejarawan telah menyatakan negeri itu sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Mereka telah mencatat banyak riwayat tentang keagungan dan kehebatan peradaban wilayah itu. Sejarawan Yunani kenamaan, Herodotus (483-425 SM), menulis, "Babilon dibangun di sebuah lapangan persegi-panjang setiap sisinya 480 km (120 league), sehingga kelilingnya 1.920 km. Pernyataan ini, betapapun dibesar-besarkan, mengungkapkan realitas yang tak terbantah-apabila dibaca bersama tulisan-tulisan lainnya.

Namun, dari pemandangannya yang menarik dan istana-istananya yang tinggi, tak ada lagi yang dapat dilihat sekarang selain tumpukan lempung, di antara sungai Tigris dan Efrat, yang diliputi kebungkaman maut. Kebungkaman itu kadang-kadang dipecahkan oleh para orientalis yang melakukan penggalian untuk mendapatkan informasi tentang peradaban Babilonia.Nabi Ibrahim, pelopor tauhid, dilahirkan di masa pemerintahan Namrud putra Kan'an. Walaupun Namrud menyembah berhala, ia juga mengaku sebagai tuhan (dewa). Dengan memanfaatkan kejahilan rakyat yang mudah percaya, ia memaksakan kepercayaannya kepada mereka. 

Mungkin nampak agak ganjil bahwa seorang penyembah berhala mengaku pula sebagai dewa. Namun, Al-Qur'an memberikan kepada kita suatu contoh lain tentang kepercayaan ini. Ketika Musa mengguncang kekuasaan Fir'aun dengan logikanya yang kuat dan menguak kebohongannya dalam suatu pertemuan umum, para pendukung Fir'aun berkata kepadanya, "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?" (QS, Surah al-A'raf, 7:127). Telah termasyhur bahwa Fir'aun mengaku sebagai tuhan dan biasa menyerukan, "Aku adalah tuhanmu yang tertinggi." Namun ayat ini menunjukkan bahwa ia juga seorang penyembah berhala.

Dukungan terbesar yang diperoleh Namrud datang dari para astrolog dan penenung yang dipandang sebagai orang-orang pintar di zaman itu. Ketundukan mereka ini membuka jalan bagi Namrud untuk memanfaatkan kaum tertindas dan kalangan bodoh. Selain itu, sebagian famili Ibrahim, misalnya Azar yang membuat berhala dan juga memahami astrologi, termasuk pengikut Namrud. Ini saja sudah merupakan halangan besar bagi Ibrahim, karena di samping harus berjuang melawan kepercayaan umum itu, ia juga harus menghadapi perlawanan kaum kerabatnya sendiri.

Namrud telah menerjunkan diri ke dalam laut kepercayaan takhayul. Ia telah membentangkan permadani untuk pesta dan minum-minum ketika para astrolog membunyikan lonceng bahaya pertama seraya mengatakan, "Pemerintahan Anda akan runtuh melalui seorang putra negeri ini." Ketakutan laten Namrud bangkit. Ia bertanya, "Apakah ia telah lahir atau belum?" Para astrolog itu menjawab bahwa ia belum lahir. Ia kemudian memerintahkan supaya diadakan pemisahan antara perempuan dan laki-laki-di malam yang, menurut ramalan para astrolog, kehamilan musuh mautnya itu akan terjadi. Walaupun demikian, para algojonya membunuh anak-anak laki-laki. Para bidan diperintahkan untuk melaporkan rincian tentang anak-anak yang baru lahir ke suatu kantor khusus.

Pada malam itu juga terjadi kehamilan Ibrahim. Ibunya hamil dan, seperti ibu Musa putra 'Imran, ia merahasiakan kehamilan itu. Setelah melahirkan, ia menyelamatkan diri ke suatu gua yang terletak di dekat kota itu, untuk melindungi nyawa anaknya tersayang. Ia meninggalkan anaknya di suatu sudut gua, dan mengunjunginya di waktu siang atau malam, tergantung situasi. Dengan berlalunya waktu, Namrud merasa aman. Ia percaya bahwa musuh tahta dan pemerintahannya telah dibunuh.

Ibrahim menjalani tiga belas tahun kehidupannya dalam sebuah gua dengan lorong masuk yang sempit, sebelum ibunya membawanya keluar. Ketika muncul di tengah masyarakat, para pendukung Namrud merasa bahwa ia orang asing. Terhadap hal itu, ibunya berkata, "Ini anak saya. Ia lahir sebelum ramalan para astrolog." (Tafsir al-Burhan, I, h. 535). Ketika keluar dari gua, Ibrahim memperkuat keyakinan batinnya dalam tauhid dengan mengamati bumi dan langit, bintang-bintang yang bersinar, dan pohon-pohonan yang hijau. Ia menyaksikan masyarakat yang aneh. Dilihatnya sekelompok orang yang memperlakukan sinar bintang dengan sangat tolol. Ia juga melihat beberapa orang dengan tingkat kecerdasan yang bahkan lebih rendah. Mereka membuat berhala dengan tangan sendiri, kemudian menyembahnya. Yang terburuk dari semuanya ialah bahwa seorang manusia, dengan mengambil keuntungan secara tak semestinya dari kejahilan dan kebodohan rakyat, mengaku sebagai tuhan mereka dan menyatakan diri sebagai pemberi hidup kepada semua makhluk dan penakdir semua peristiwa. Nabi Ibrahim merasa harus mempersiapkan diri untuk memerangi tiga kelompok yang berbeda ini.

IBRAHIM BERJUANG MELAWAN PENYEMBAHAN BERHALA

Kegelapan penyembahan berhala telah meliputi seluruh Babilon, tempat lahir Nabi Ibrahim, Banyak tuhan dunia dan langit telah merenggut hak menalar dan berpikir dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagiannya memandang tuhan-tuhan itu memiliki kekuasaan sendiri, sedang yang lainnya memperlakukan mereka sebagai perantara untuk memperoleh nikmat dari Tuhan Yang Mahakuasa.

RAHASIA POLITEISME

Orang Arab sebelum datangnya Islam percaya bahwa setiap makhluk dan setiap gejala tentulah mempunyai penyebab tersendiri, dan bahwa Tuhan Yang Esa tidak mampu menciptakan semuanya. Pada masa itu, ilmu pengetahuan memang belum menemukan hubungan antara makhluk dan fenomena alami serta berbagai kejadian. Sebagai akibatnya, orang-orang itu mengkhayalkan bahwa semua mahluk dan berbagai fenomena alami berdiri sendiri-sendiri dan tidak ada kaitan satu sama lain. Karena itu, mereka menganggap bahwa untuk setiap fenomena seperti hujan dan salju, gempa bumi dan kematian, paceklik dan kesukaran, perdamaian dan ketentraman, kekejaman dan pertumpahan darah, dan sebagainya, ada tuhannya masing-masing. Mereka tak menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah suatu kesatuan, di mana bagiannya saling terkait dan masing-masingnya mempunyai efek timbal balik. 

Pikiran bersahaja manusia masa itu belum mengetahui rahasia penyembahan kepada Allah Yang Esa dan tidak menyadari bahwa Allah yang menguasai alam semesta adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahatahu, Pencipta yang bebas dari segala kelemahan dan cacat. Kekuasaan, kesempurnaan, pengetahuan, dan kebijaksanaanNya tiada berbatas. Ia di atas segala sesuatu yang dianggapkan kepada-Nya. Tak ada kesempurnaan yang tidak Ia miliki.
Tak ada kemungkinan yang tak dapat diciptakan-Nya. Ia adalah Allah Yang Esa yang mampu menciptakan segala makhluk dan fenomena tanpa bantuan dan dukungan siapa pun. Ia dapat menciptakan makhluk lain dengan cara yang sama sebagaimana Ia menciptakan makhluk-makhluk yang ada sekarang.

Karena itu, secara nalar, adanya perantaraan dari suatu wewenang yang dapat mengurangi kemandirian kehendak Allah yang tidak bersekutu, tidak dapat diterima. Kepercayaan bahwa alam semesta mempunyai dua pencipta, yang satu merupakan sumber kebaikan dan cahaya sedang yang satu lagi merupakan sumber kejahatan dan kegelapan, juga tak dapat diterima. Kepercayaan bahwa ada perantaraan oleh seseorang, seperti Maryam dan 'Isa, dalam hal penciptaan alam semesta, atau bahwa pengaturan tatanan dunia fisik telah dikuasakan pada seorang manusia, merupakan manifestasi syirik dan kelebih-lebihan. Penganut tauhid, dengan rasa hormat yang sewajarnya kepada para nabi dan orang suci, memelihara keyakinan pada Pencipta Alam Semesta, dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. 

Metode yang digunakan para nabi untuk memberi pelajaran dan tuntutan kepada manusia ialah metode logika dan penalaran, karena mereka berurusan dengan pikiran manusia. Mereka berhasrat mendirikan pemerintahan yang didasarkan pada keimanan, pengetahuan, dan keadilan, dan pemerintahan semacam itu tak dapat didirikan melalui kekerasan, peperangan, dan pertumpahan darah. Oleh karena itu, kita harus membedakan pemerintahan para nabi dengan pemerintahan Fir'aun dan Namrud. Tujuan dari kelompok yang kedua ini ialah amannya kekuasaan dan pemerintahan mereka dengan segala cara yang mungkin, sekalipun negara akan runtuh setelah mereka mati. Sebaliknya, orang-orang suci bermaksud mendirikan pemerintahan yang membawa maslahat pada individu maupun masyarakat, baik penguasa itu kuat atau lemah pada suatu waktu tertentu, sementara ia hidup maupun sesudah ia mati. Tujuan semacam itu tentu saja tak dapat dicapai dengan kekerasan dan tekanan.

Ibrahim pertama-tama berjuang melawan kepercayaan kaum kerabatnya yang menyembah berhala, di mana Azar merupakan pentolannya. Sebelum mencapai keberhasilan penuh dalam bidang ini, ia sudah harus berjuang pada bidang operasi lainnya. Taraf pemikiran kelompok yang kedua ini agak lebih tinggi dan lebih jelas dari yang pertama. Berlawanan dengan agama para famili Ibrahim, mereka ini telah membuang makhluk-makhluk duniawi yang hina dan tak berharga, lalu memuja bintang di langit. Ketika melawan pemujaan bintang, Ibrahim menyatakan dengan kata-kata sederhana sejumlah kebenaran filosofis dan ilmiah yang belum dipahami oleh manusia di zaman itu, bahkan sekarang pun argumennya menimbulkan kekaguman para sarjana yang sangat mengenal seni logika dan perdebatan. Di atas semua ini, Al-Qur'an juga telah mengutip argumen-argumen Ibrahim, dan kami mendapat kehormatan untuk mengutipnya dengan penjelasan singkat. 

Untuk dapat menuntun masyarakatnya, suatu malam Ibrahim menatap ke langit di saat terbenamnya matahari dan terus terjaga hingga ia terbenam lagi di hari berikutnya. Selama 24 jam ini ia berdebat dan berdiskusi dengan tiga kelompok, dan menyalahkan kepercayaan mereka dengan argumen-argumennya yang kuat. 

Kegelapan malam mendekat dan menyembunyikan segala tanda kehidupan. Bintang Venus yang cemerlang muncul dari suatu sudut cakrawala. Untuk merebut hati para pemuja Venus, Ibrahim menyesuaikan diri dengan mereka dan mengikuti garis pikiran mereka seraya mengatakan, "Itu adalah pemeliharaku." Namun, ketika bintang itu tenggelam dan menghilang di suatu sudut, ia berkata, "Saya tak dapat menerima tuhan yang tenggelam." Dengan penalarannya yang alami, ia menolak kepercayaan para pemuja Venus dan membuktikan kebatilannya. 

Pada tahap berikutnya, matanya tertuju pada bundaran bulan yang bercahaya terang dengan keindahannya yang memukau. Dengan maksud merebut hati pemuja bulan, secara lahiriah ia bersikap seakan bulan itu tuhan, tapi kemudian ia merontokkan kepercayaan itu dengan logikanya yang kuat. Demikianlah, ketika Yang Mahakuasa membenamkan bulan itu di balik cakrawala, dan cahaya serta keindahannya lenyap dari muka bumi, maka tanpa menyinggung perasaan para pemuja bulan itu, Ibrahim berkata, "Apabila Tuhanku yang sesungguhnya tidak membimbing aku, tentulah aku tersesat, karena tuhan ini terbenam seperti bintang dan tunduk pada suatu tatanan dan sistem yang pasti yang dibentuk oleh sesuatu yang lain." 

Kegelapan malam berakhir dan matahari pun muncul, membuka cakrawala, dan menyebarkan sinar keemasannya ke muka bumi. Para pemuja matahari memalingkan wajah mereka kepada tuhannya. Untuk menaati aturan perdebatan, Ibrahim juga bersikap seolah mengakui ketuhanan matahari. Namun, terbenamnya matahari mengukuhkan bahwa ia tunduk pada suatu sistem alam semesta yang umum, dan Ibrahim secara terbuka menolaknya sebagai yang patut disembah.(lihat QS,al-An'am, 6:75-79) Tak diragukan bahwa saat tinggal di gua, melalui anugerah Ilahi yang luar biasa, Ibrahim mendapatkan dari sumber yang gaib pengetahuan batin tentang tauhid, yang merupakan kekhususan para nabi. Namun, setelah memperhatikan dan mengkaji benda-benda langit, ia juga memberikan bentuk argumentasi pada pengetahuan itu. Dengan demikian, di samping menunjukkan jalan yang benar kepada manusia dan memberikan kepada mereka sarana bimbingan, Ibrahim telah meninggalkan pengetahuan yang tak ternilai untuk digunakan oleh orang-orang yang mencan kebenaran dan realitas.

PENJELASAN LOGIKA IBRAHIM

Ibrahim sangat menyadari bahwa Allah menguasai alam semesta, tetapi pertanyaannya adalah: Apakah sumber kekuatan itu terdiri dari benda-benda langit ini, atau suatu Wujud Yang Mahakuasa, yang lebih tinggi daripadanya? Setelah mengkaji kondisi-kondisi benda yang berubah-ubah ini, Ibrahim mendapatkan bahwa wujud-wujud yang cerah dan bersinar itu sendiri tunduk pada ketetapan -terbit, terbenam, dan lenyap- menurut sistem tertentu dan berotasi pada suatu jalan yang tak berubah-ubah. Ini membuktikan bahwa mereka tunduk pada kehendak dari sesuatu yang lain; suatu kekuatan yang lebih besar dan lebih kuat mengontrol mereka dan membuat mereka berotasi pada orbit yang telah ditentukan.

Marilah kita bahas masalah ini lebih lanjut. Alam semesta sepenuhnya memiliki "peluang-peluang" dan "kebutuhan-kebutuhan." Berbagai makhluk dan fenomena alami tak pernah lepas dari Yang Mahakuasa. Mereka membutuhkan Tuhan Yang Mahatahu dalam setiap detik, siang dan malam - Tuhan yang tidak pernah lalai akan kebutuhan mereka. Benda-benda langit itu hadir dan diperlukan pada suatu saat dan tak hadir serta tak berguna pada saat lainnya. Wujud seperti itu tidak mempunyai kemampuan yang diperlukan untuk menjadi tuhan dan wujud lainnya, untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan mereka Teori ini dapat diperluas dalam bentuk berbagai pernyataan teoritis dan filosofis. Misalnya, kita mungkin mengatakan: Benda-benda langit ini bergerak dan berputar pada sumbunya masing-masing. Apabila gerakannya itu tanpa pilihan dan atas paksaan semata-mata, tentulah ada tangan yang lebih kuat yang mengendalikannya. 

Apabila gerakannya sesuai dengan kehendaknya sendiri, haruslah dilihat apakah tujuan dari gerakan itu. Apabila mereka bergerak untuk mencapai kesempurnaan, seperti benih yang bangkit dari bumi untuk tumbuh menjadi pohon dan berbuah, maka itu berarti mereka memerlukan suatu wujud yang independen, kuasa, dan bijaksana yang akan menyingkirkan kekurangan-kekurangan mereka dan menganugerahkan kepada mereka sifat kesempurnaan. Apabila gerakan dan rotasi mereka menuju kepada kelemahan dan kekurangan, dan halnya seperti orang yang melewati usia puncaknya dan memasuki sisi usia yang salah, maka itu berarti gerakannya cenderung kepada kemunduran dan kehancuran, dan dengan demikian tidak sesuai dengan posisi sebagai tuhan yang akan menguasai dunia dan segala isinya.

METODE DISKUSI DAN DEBAT PARA NABI

Sejarah para nabi menunjukkan bahwa mereka memulai program reformasi dengan mengundang para anggota keluarga mereka kepada jalan yang benar, kemudian mereka memperluas dakwah itu kepada orang lain. Ini pulalah yang dilakukan Nabi Muhammad segera setelah beliau ditunjuk sebagai nabi. Pertama-tama beliau mengajak kaumnya sendiri kepada Islam, dan meletakkan fundasi dakwahnya pada reformasi mereka, sesuai dengan perintah Allah, "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (QS, asy-Syu'ara', 26:2l3) Ibrahim juga mengambil metode yang sama. Mula-mula beliau berusaha mereformasi kaum kerabatnya. Azar menduduki posisi yang sangat tinggi di kalangan familinya, karena, selain terpelajar dan seorang seniman, ia juga ahli astrologi. Di istana Namrud, kata-katanya sangat berpengaruh, dan kesimpulan - kesimpulan astrologinya diterima semua penghuni istana.

Ibrahim sadar bahwa apabila ia herhasil meraih Azar ke pihaknya maka ia akan merebut benteng terkuat dari para penyembah berhala. Oleh karena itu, ia menasihatinya dengan cara sebaik mungkin supaya tidak mcnyembah benda-benda mati. Tetapi, karena beberapa alasan, Azar tidak menerima ajakan dan nasihat Ibrahim. Namun, sejauh berhubungan dengan kita, hal terpenting dalam episode ini ialah metode dakwah dan bentuk percakapan Ibrahim dengan Azar. Lewat kajian mendalam dan cermat terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang merekam percakapan ini, metode argumen dan dakwah yang ditempuh para nabi itu menjadi amat sangat jelas. Marilah kita lihat bagaimana Ibrahim mengajak Azar kepada jalan yang benar: "Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar; tidak melihat, dan tidak menolong kamu sedikitpun. Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dan Tuhan Yang Maha Pemurah, sehingga jadilah kamu kawan syaitan.'" (QS, Maryam, 19:42-45) Sebagai jawaban atas ajakan Ibrahim, Azar berkata, "Beranikah engkau menyangkal tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Bertobatlah dari ketololan itu! Kalau tidak, engkau akan dirajam sampai mati. Keluarlah segera dari rumahku!" Ibrahim yang murah hati menerima kata-kata kasar Azar ini dengan ketenangan sempurna seraya menjawab, "Salam atasmu. Aku akan memohon kepada Tuhanku untuk mengampunimu." Adakah jawaban yang lebih pantas dan ucapan yang lebih patut daripada kata-kata Ibrahim ini?

APAKAH AZAR AYAH IBRAHIM?

Ayat-ayat yang dikutip di atas, maupun ayat (15) surah at-Taubah dan (14) surah al-Mumtahanah, seakan memberi kesan hubungan Azar dengan Ibrahim sebagai ayah dan anak. Namun, perlu diinformasikan di sini bahwa dari perspektif Syi'ah, penyembah berhala Azar sebagai ayah Ibrahim tidaklah sesuai dengan konsensus para ulama mereka yang percaya bahwa nenek moyang Nabi Muhammad maupun semua nabi lainnya adalah orang-orang takwa yang beriman tauhid. Ulama besar Syi'ah, Syekh Mufid, memandang anggapan ini sebagai salah satu pendapat yang disepakati seluruh ulama Syi'ah dan sejumlah besar ulama Sunni (lihat Awa'il al-Malaqat, hal. 12). Oleh karena itu, timbul pertanyaan: Apakah sesungguhnya maksud ayat-ayat yang nampak jelas itu, dan bagaimana masalah ini harus dipecahkan?

Banyak mufasir Al-Qur'an menegaskan bahwa walaupun kata ab dalam bahasa Arab biasanya digunakan dalam arti "ayah," kadang-kadang kata itu juga digunakan dalam leksikon Arab dan terminologi Al-Qur'an dalam arti "paman." Dalam ayat berikut, misalnya, kata ab berarti "paman"

"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan [tanda-tanda] maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab, 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ab-Smu, [yakni] Ibrahim, Isma'il, dan Ishaq, [yaitu] Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS, al-Baqarah, 2:133) Tiada keraguan bahwa Isma'il adalah paman Ya'qub, bukan ayahnya, karena Ya'qub adalah putra Ishaq yang saudara Isma'il. Walaupun demikian, putra-putra Ya'qub memanggilnya "ayah Ya'qub" yakni ab Ya'qub. Karena kata ini mengandung dua makna, maka pada ayat-ayat yang berhubungan dengan diajaknya Azar ke jalan yang benar oleh Ibrahim, boleh jadi yang dimaksud dengannya adalah "paman." Dan boleh jadi pula Ibrahim memanggilnya "ayah," karena ia telah bertindak sebagai wali baginya dalam waktu yang panjang, dan Ibrahim memandangnya sebagai ayahnya.

AZAR DALAM AL-QUR'AN

Dengan maksud untuk mendapatkan keputusan Al-Qur'an tentang hubungan Ibrahim dengan Azar, kami merasa perlu mengundang perhatian pembaca pada keterangan dua ayat:
1. Sebagai akibat usaha keras Nabi, Arabia disinari cahaya Islam. Kebanyakan rakyat memeluk agama ini dengan sepenuh hati, dan menyadari bahwa syirik dan pemujaan berhala akan berakhir di neraka. Walaupun mereka bahagia karena telah memasuki agama yang benar, mereka merasa sedih mengingat nenek moyang mereka yang penyembah berhala. Mendengar ayat-ayat yang menggambarkan nasib kaum musyrik di Hari Pengadilan, terasa berat bagi mereka. Untuk menjauhkan siksaan mental ini, mereka memohon kepada Nabi untuk berdoa kepada Allah bagi keampunan nenek moyang mereka yang telah mati sebagai orang kafir, sama sebagaimana Ibrahim berdoa bagi Azar. Namun, ayat berikut diwahyukan sebagai jawaban atas permohonan mereka: 

"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang musyrik, walaupun orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, Ibrahim pun berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya bagi penyantun." (QS, at-Taubah, 9:113-114)
Akan nampak lebih masuk akal apabila percakapan Ibrahim dengan Azar, dan janjinya kepada Azar untuk mendoakan bagi keampunannya, yang berakhir dengan putusnya hubungan serta perpisahan mereka, terjadi ketika Ibrahim masih muda, yakni ketika ia masih tinggal di Babilon dan belum berniat ke Palestina, Mesir, dan Hijaz. Setelah mengkaji ayat ini, dapat disimpulkan bahwa Azar bersikeras pada kekafiran dan penyembahan berhalanya, dan Ibrahim, yang masih muda, memutuskan hubungannya dengan Azar dan tak pernah memikirkannya lagi sesudah itu.

2. Di bagian terakhir masa hidupnya, yakni ketika ia telah lanjut usia, setelah melaksanakan sebagian besar tugasnya (yakni pembangunan Ka'bah) dan membawa istri dan anaknya ke gurun kering Mekah, ia berdoa dari lubuk hatinya bagi sejumlah orang, termasuk kedua orang tuanya, dan memohon agar doanya dikabulkan Allah. Pada waktu itu beliau berdoa, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS, Ibrahim 14:41)

Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa doa itu diucapkan setelah selesainya pembangunan Ka'bah, ketika Ibrahim sudah berada di usia tuanya. Apabila sang ayah dalam ayat ini, yang kepadanya telah ia persembahkan cinta dan bakti dan yang didoakannya, adalah Azar itu, maka ini akan berarti bahwa Ibrahim tidak berlepas diri darinya sepanjang hidupnya, dan terkadang beliau juga berdoa untuknya. Padahal, ayat pertama, yang diwahyukan sebagai jawaban atas permohonan para keturunan musyrikin itu, menjelaskan bahwa setelah suatu waktu, ketika ia masih muda, Ibrahim telah memutuskan segala hubungan dengan Azar dan menjauh darinya – berlepas diri berarti tidak lagi saling berbicara, tidak peduli, dan tidak saling mendoakan keselamatan. 

Ketika dua ayat ini dibaca bersama-sama, terlihat jelas bahwa orang yang dibenci Ibrahim di usia mudanya, yang dengannya ia memutuskan segala hubungan kepentingan dan cinta, bukanlah orang yang diingatnya hingga usia tuanya, yang untuk keampunan dan keselamatannya ia berdoa (lihat Majma' al-Bayan, III, hal. 319; al-Mizan, VII, 170).

IBRAHIM, SI PENGHANCUR BERHALA

Saat perayaan mendekat, penduduk Babilon berangkat ke hutan untuk melepaskan lelah, memulihkan tenaga mereka, dan melaksanakan upacara perayaan itu. Kota menjadi sepi. Perbuatan Ibrahim, celaan dan kecamannya, telah mencemaskan mereka. Karena itu, mereka mendesak Ibrahim untuk pergi bersama mereka dan ikut serta dalam upacara perayaan. Namun, usul dan desakan mereka datang Bertepatan dengan sakitnya Ibrahim. Karena itu, sebagai jawabannya, Ibrahim mengatakan sedang sakit dan tak akan menyertai upacara perayaan itu. Sesungguhnya, itulah hari gembira bagi sang tokoh tauhid, sebagaimana bagi para musyrik itu. Bagi kaum musyrik, itu adalah pesta perayaan yang sangat tua. Mereka pergi ke kaki gunung di lapangan-lapangan hijau untuk melaksanakan upacara perayaan dan menghidupkan adat kebiasaan nenek moyang mereka. Bagi si jawara tauhid, hari itu pun merupakan hari raya besar pertama yang telah lama dirindukannya, untuk menghancurkan manifestasi kekafiran dan kemusyrikan, ketika kota sedang bersih dan lawan-lawannya. 

Ketika "keloter" terakhir penduduk meninggalkan kota, Ibrahim merasa bahwa saat itulah kesempatannya. Dengan hati penuh keyakinan dan iman kepada Allah, beliau memasuki rumah berhala. Di dalamnya beliau menemukan penggalan-penggalan kayu berpahat, berhala-berhala yang tak bernyawa. Ia ingat akan banyaknya makanan yang biasa dibawa oleh para penyembah berhala ke kuil mereka sebagai sajian untuk beroleh rahmat. Beliau lalu mengambil sepiring roti yang ada di situ. Sambil mengunjukkannya kepada berhala-berhala itu, beliau berkata mengejek, "Mengapa tidak kamu makan segala macam makanan ini?" Tentulah tuhan buatan kaum musyrik itu tak mampu bergerak sedikit pun, apalagi memakan sesuatu. Keheningan membisu menguasai kuil berhala yang luas itu, yang hanya terpecah oleh pukulan-pukulan keras Ibrahim pada tangan, kaki, dan tubuh berhala-berhala itu. Ia menghancurkan semua berhala itu, hingga menjadi tumpukan puing kayu dan logam yang berhamburan di tengah kuil itu. Tetapi, ia membiarkan berhala yang paling besar, lalu meletakkan kapak di bahunya. Ini dilakukannya dengan sengaja. Ia tahu bahwa ketika kembali dari hutan, kaum musyrik akan memahami kedudukan sesungguhnya dan akan memandang situasi yang nampak itu sebagai sengaja dibuat-buat, karena tak akan mungkin mereka percaya bahwa penghancuran berhala-berhala lain itu telah dilakukan oleh berhala besar yang sama sekali tak berdaya untuk bergerak atau melakukan sesuatu. Pada saat itu, beliau pun akan menggunakan situasi itu untuk dakwah. Mereka sendiri akan mengaku bahwa berhala itu sama sekali tidak mempunyai kekuatan. Maka bagaimana mungkin ia akan menjadi penguasa dunia?

Matahari bergerak turun di cakrawala. Orang mulai pulang berkelompok-kelompok ke kota. Waktu untuk melaksanakan upacara pemujaan berhala pun tiba, dan sekelompok penyembah berhala memasuki kuil. Pemandangan yang tak terduga, yang dengan jelas menunjukkan nistanya dan rendahnya tuhan-tuhan mereka, menghentakkan mereka semua. Hening seperti maut meliputi kuil itu. Setiap orang gelisah. Tetapi, salah seorang di antara mereka memecahkan kesunyian dengan berkata, "Siapa yang telah melakukan kejahatan ini?" Kutukan terhadap berhala oleh Ibrahim di waktu lalu, dan kecamannya yang terang-terangan terhadap pemujaan berhala, meyakinkan mereka bahwa hanya dialah yang mungkin melakukan semua itu. Sidang pengadilan pun diadakan di bawah pengawasan Namrud, dan si remaja Ibrahim serta ibunya dibawa ke pengadilan. 

Si ibu dituduh menyembunyikan kelahiran anaknya dan tidak melaporkannya ke kantor khusus pemerintahan untuk dibunuh. Ia memberikan jawaban atas tuduhan itu, "Saya menyimpulkan bahwa sebagai akibat keputusan terakhir pemerintah waktu itu -yakni pembunuhan anak-anak- manusia di negara ini sedang dimusnahkan. Saya tidak memberitahukan kepada kantor pemerintah tentang putra saya, karena saya hendak melihat bagaimana ia maju di masa depan. Apabila ia membuktikan diri sebagai orang yang telah diramalkan para pendeta peramal itu, akan ada alasan bagi saya untuk melaporkannya kepada polisi agar mereka tidak lagi menumpahkan darah anak-anak lain. Dan apabila ia ternyata bukan orang itu, maka saya telah menyelamatkan seorang muda di negara ini dari pembunuhan." Argumen ibu itu sangat memuaskan para hakim. Sekarang Ibrahim diperiksa. "Keadaan menunjukkan bahwa berhala besar telah melakukan semua pukulan itu. Dan apabila berhala itu dapat berkata, sebaiknya Anda tanyakan kepadanya." Jawaban bernada ejekan dan penghinaan ini dimaksudkan untuk mencapai sasaran lain. Ibrahim yakin bahwa orang-orang itu akan berkata, "Ibrahim! Engkau tahu sepenuhnya bahwa berhala-berhala itu tak dapat berbicara. Mereka pun tidak mempunyai kehendak atau akal." Dalam hal itu, Ibrahim dapat meminta perhatian sidang pengadilan tentang satu hal yang mendasar. Kebetulan, apa yang terjadi sama dengan yang diharapkannya. Sehubungan dengan pernyataan orang-orang itu yang membuktikan kelemahan, kehinaan,
dan tidak berdayanya berhala-berhala itu, Ibrahim berkata, "Apabila mereka memang demikian, mengapa kamu menyembah dan berdoa kepada mereka untuk mengabulkan permohonan kamu?"

Kejahilan, keras kepala, dan peniruan membuta menguasai hati dan pikiran para hakim. Terhadap jawaban Ibrahim yang tak terbantah itu, mereka tidak beroleh pilihan lain kecuali memberikan keputusan yang sesuai dengan keinginan pemerintah masa itu. Ibrahim harus dibakar hidup-hidup. Setumpukan besar kayu bakar dinyalakan, dan jawara tauhid itu dilemparkan ke dalam api yang berkobar. Namun, Allah Yang Mahkuasa mengulurkan tangan kasih dan rahmat-Nya kepada Ibrahim dan menjadikanNya kebal. Allah mengubah neraka buatan manusia itu menjadi taman hijau yang sejuk.

PELAJARAN DARI RIWAYAT IBRAHIM

Walaupun orang Yahudi mengaku sebagai pelopor kafilah penganut tauhid, riwayat ini tak masyhur di kalangan mereka dan tidak beroleh tempat dalam Taurat yang ada sekarang. Di antara kitab-kitab Ilahi, hanya Al-Qur'an yang telah meriwayatkannya. Oleh karena itu, kami sebutkan di bawah ini beberapa pokok yang mengandung pelajaran bagi manusia, suatu hal yang memang merupakan tujuan pokok Al-Qur'an ketika meriwayatkan sejarah berbagai nabi.

1. Riwayat ini merupakan bukti yang jelas tentang keberanian dan keperkasaan yang luar biasa dari kekasih Allah (Ibrahim) ini. Tekadnya untuk menghancurkan manifestasi dan sarana kemusyrikan tak dapat disembunyikan dari rakyat Namrud. Dengan celaan dan kecamannya, beliau telah menyatakan perlawanan dan kebenciannya yang luar biasa terhadap penyembahan berhala secara sangat nyata. Beliau mengatakan secara terbuka dan jelas, "Apabila kamu tidak berhenti dari praktek yang memalukan itu, aku akan membuat keputusan tentang mereka." Dan pada hari kepergian orang-orang ke hutan, beliau berkata secara terang-terangan, "Demi Tuhan, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (QS, al-Anbiya', 21:57) 'Allamah Majlisi mengutip dari Imam Ja'far ash-Shadiq, "Gerakan dan perjuangan satu orang melawan ribuan orang musyrik merupakan bukti nyata akan keberanian dan kesabaran Ibrahim, yang tidak mengkhawatirkan jiwanya dalam mengangkat asma Allah dan memperkuat dasar penyembahan kepada Tuhan yang Esa."(lihat Bihar al-Anwar, V, hal. 130).

2. Sepintas nampak seakan penghancuran berhala oleh Ibrahim merupakan pemberontakan bersenjata dan permusuhan, tetapi dari percakapannya dengan para hakim, terbukti bahwa gerakan ini sebenarnya mempunyai aspek dakwah. Karena, beliau memandang bahwa sebagai sarana terakhir untuk membangunkan kebijaksanaan dan kesadaran hati nurani manusia, beliau harus menghancurkan berhala-berhala itu, kecuali berhala yang besar, dan meletakkan kapak di bahunya, supaya mereka dapat mengadakan penyelidikan lebih jauh tentang sebab-sebab insiden itu. Dan, sebagai ternyata pada akhirnya, mereka hanya akan menganggap pandangan itu sebagai ejekan, dan sama sekali tak akan percaya kalau penghancuran itu dilakukan oleh berhala besar itu. Dengan demikian, beliau dapat menggunakan hal itu untuk mendakwahkan pendapatnya dengan mengatakan, "Menurut pengakuan kalian sendiri, berhala besar itu tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun, lalu mengapa kalian menyembahnya?" Ini menunjukkan bahwa sejak awal mula, para nabi hanya menggunakan logika dan argumen sebagai senjata mereka yang ampuh, dan itu senantiasa membawa hasil. Kalau tidak, maka apa artinya penghancuran berhala ketimbang bahaya bagi nyawa Ibrahim? Tindakan ini tentulah mengandung makna besar bagi misinya, dari sisi pandang alasan penalaran, sehingga beliau sedia mengorbankan nyawanya untuk itu. 

3. Ibrahim sadar bahwa sebagai akibat tindakannya, hidupnya akan berakhir. Karenanya, menurut anggapan umum, ia mestinya akan terguncang, menyembunyikan diri, atau sekurang-kurangnya berjanji akan berhenti membuat "lelucon." Tetapi, ia sepenuhnya menguasai semangat dan emosinya. Misalnya, ketika memasuki kuil berhala, ia mendekati setiap berhala dan menawarkan mereka makan, secara olok-olok. Setelah ternyata sia-sia, beliau menjadikan isi kuil berhala itu onggokan penggalan kayu, dan menganggap semua itu sebagai sesuatu yang benar-benar biasa saja, seakan-akan hal itu tidak akan disusul oleh kematiannya sendiri. Ketika muncul di pengadilan, beliau menjawab pertanyaan mereka, "Sesungguhnya seseorang telah melakukannya. Pemimpinnya ialah yang ini. Karena itu, tanyakanlah kepadanya jika ia dapat berbicara." Lelucon demikian di hadapan pengadilan hanya dapat muncul dari seseorang yang siap sedia menghadapi segala kesudahan tanpa rasa takut atau ngeri dalam hatinya.

Bahkan, yang lebih menakjubkan lagi ialah sikap Ibrahim pada saat ia ditempatkan pada pelontar, dan mengetahui dengan pasti bahwa ia segera akan berada di tengah api -yang kayu bakarnya tadinya dikumpulkan orang Babilon untuk melaksanakan upacara suci keagamaan, dan yang nyalanya membubung dengan dahsyat sehingga bahkan burung rajawali tak berani terbang di atasnya. Pada saat itu, Malaikat Jibril turun dan langit seraya menyatakan kesediaannya untuk memberikan segala pertolongan kepada Ibrahim. Jibril berkata, "Apa keinginanmu?" Ibrahim menjawab, "Aku mempunyai hasrat. Tetapi aku tak dapat memberitahukannya kecuali kepada Tuhanku." (lihat Al-'Uyun, hal. 136; al-Amali, oleh Shaduq, hal. 274; Bihar al-Anwar, hal. 35). Jawaban ini jelas menunjukkan keluhuran dan kebesaran rohani Ibrahim.

Namrud menanti dengan cemas dan gelisah karena dendam kesumatnya kepada Ibrahim. Ia begitu ingin melihat bagaimana api menelannya. Pelontar disiapkan. Dengan satu sentakan, tubuh Ibrahim, si jawara tauhid Ilahi, terlempar ke api. Namun, kehendak Tuhan Ibrahim mengubah neraka buatan itu menjadi taman dengan cara yang amat mengejutkan mereka, sehingga Namrud tanpa sengaja berpaling kepada Azar dan berkata, "Tuhan Ibrahim mencintainya." (Tafsir al-Burhan, III, hal. 64).
Walaupun adanya kejadian itu, Ibrahim tak dapat mendakwahkan agamanya dengan kebebasan penuh. Akhirnya, pemerintah waktu itu memutuskan, setelah bermusyawarah, untuk membuang Ibrahim. Ini membuka suatu bab baru dalam kehidupan Ibrahim dan menjadi awal perjalanannya ke Suriah, Palestina, Mesir, dan Hijaz.

BAB BARU DALAM KEHIDUPAN IBRAHIM

Pengadilan di Babilonia memutuskan membuang Ibrahim dari negeri itu. Beliau pun meninggalkan tempat kelahirannya, lalu pergi ke Mesir dan Palestina. Amaliqa, yang menguasai wilayah-wilayah itu, menyambutnya dengan hangat dan memberikan kepadanya banyak hadiah, satu di antaranya adalah seorang budak perempuan bernama Hajar. Istri Ibrahim, Sarah, belum melahirkan anak hingga saat itu. Oleh karena itu, ia menyarankan Ibrahim supaya kawin dengan Hajar, dengan harapan kiranya beliau diberkati seorang putra, yang akan menjadi sumber kebahagiaan dan kesenangan mereka. Perkawinan dilangsungkan, dan Hajar kemudian melahirkan seorangputra yang diberi nama Ismai'l. Itu terjadi jauh sebelum Sarah hamil dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Ishaq. (Lihat Sa'd as-Su'ud, hal. 41-42;Bihar al-Anwar, hal. 118). 

Setelah beberapa waktu, sebagaimana diperintahkan Allah, Ibrahim membawa Isma'il dan ibunya, Hajar ke selatan (Mekah), dan menempatkan mereka di suatu lembah yang tak dikenal. Lembah ini tak berpenghuni, dan hanya kafilah dari Sunah ke Yaman dan sebaliknya yang memasang tenda di sana. Bila tidak ada kafilah, tempat ini benar-benar sepi dan hanya merupakan hamparan pasir membakar sebagaimana bagian-bagian tanah Arab lainnya. Tinggal di tempat yang mengerikan itu sungguh sulit bagi seorang perempuan yang telah melewatkan hari-harinya di negeri Amaliqa. Terik gurun yang membakar dan anginnya yang amat sangat panas memberikan bayangan kematian di hadapan mata. Ibrahim sendiri sangat prihatin atas kenyataan ini. Sementara memegang kendali hewan tunggangannya dengan maksud mengucapkan selamat tinggal kepada istri dan anaknya, air matanya mengalir, dan ia berkata kepada Hajar, "Wahai.Hajar! Semua ini dilakukan menurut perintah Yang Mahakuasa, dan perintah-Nya tak dapat dilawan. Bersandarlah pada rahmat Allah, dan yakinlah bahwa Ia tak akan menistakan kamu." Kemudian Ibrahim berdoa kepada Allah dengan penuh khusyuk, "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dan buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian." (QS, al-Baqarah, 2:126).

Ketika sedang menuruni bukit, Ibrahim menengok ke belakang dan berdoa kepada Allah untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka. Walaupun perjalanan tersebut tampak sangat sulit dan susah, di kemudian hari terbukti bahwa hal itu mengandung makna yang amat penting. Di antaranya adalah pembangunan Ka'bah yang memberikan dasar yang agung bagi para penganut tauhid untuk mengibarkan panji penyembahan kepada Allah Yang Esa di Arabia, dan merupakan fundasi gerakan keagamaan yang besar, yang akan mendapat bentuk di kemudian hari, yaitu gerakan besar yang beroperasi di negeri ini melalui pengunci segala nabi.

BAGAIMANA TERJADINYA SUMBER AIR ZAM-ZAM

Ibrahim mengambil kendali hewan tunggangannya. Dengan air mata, ia memohon diri kepada tanah Mekah, Hajar, dan putranya. Tetapi, tak berapa lama kemudian, makanan dan minuman yang dapat diperoleh si anak dan ibunya habis, dan air susu Hajar pun kering. Kondisi putranya mulai merosot. Air mata mengucur dari ibu yang terasing itu dan membasahi pangkuannya. Dalam keadaan amat bingung, ia bangkit berdiri lalu pergi ke bukit Shafa. Dari sana ia melihat suatu bayangan dekat bukit Marwah. Ia pun lari ke sana. Namun, pemandangan palsu itu sangat mengecewakannya. Tangisan dan keresahan putranya tercinta menyebabkan ia lari lebih keras ke sana ke mari. Demikianlah, ia berlari tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air, tetapi pada akhirnya ia kehilangan semua harapan, lalu kembali kepada putranya. 

Si anak tentulah telah hampir sampai pada nafasnya yang terakhir. Kemampuannya meratap atau menangis sudah tiada. Namun, justru pada saat itu doa Ibrahim terkabul. Ibu yang letih lesu itu melihat bahwa air jernih telah mulai keluar dari bawah kaki Isma'il. Sang ibu, yang sedang menatap putranya dan mengira ia akan mati beberapa saat lagi, merasa sangat gembira melihat air itu. Ibu dan anak itu minum sampai puas, dan kabut putus asa vang telah merentangkan bayangannya pada kehidupan mereka pun terusir oleh angin rahmat Ilahi.(lihat Tafsir al-Qummi, hal. 52; Bihar al-Anwar,II, hal. 100). Munculnya sumber air ini, yang dinamakan Zamzam, sejak hari itu, membuat burung-burung air terbang di atasnya, membentangkan sayapnya yang lebar sebagai penaung kepala ibu dan anak yang telah menderita itu. Orang-orang dari suku Jarham, yang tinggal jauh dari lembah ini, melihat burung-burung yang beterbangan ke sana ke mari itu. Mereka lalu menyimpulkan bahwa telah ada air di sekitarnya. Mereka mengutus dua orang untuk mengetahui keadaan itu. Setelah lama berkeliling, kedua orang itu sampai ke pusat rahmat Ilahi itu. Ketika mendekat, mereka melihat seorang wanita dan seorang anak sedang duduk di tepi suatu genangan air. Mereka segera kembali dan melaporkan hal itu kepada para pemimpin sukunya. Para anggota suku itu segera memasang kemah mereka di sekitar sumber air yang diberkati itu, dan Hajar pun terlepas dari kesulitan dan pahitnya kesepian yang dideritanya. Isma'il tumbuh sampai dewasa sebagai pemuda yang ramah. Ia pun mengadakan ikatan perkawinan dengan wanita suku Jarham. Dengan demikian, ia beroleh dukungan dan menjadi anggota masyarakat mereka. Oleh karena itu, dari sisi ibu, keturunan Isma'il berfamili dengan suku Jarham.

MEREKA BERTEMU KEMBALI

Setelah meninggalkan putranya yang tercinta di tanah Mekah atas perintah Allah Yang Mahakuasa, kadang-kadang Ibrahim berpikir untuk pergi melihat putranya. Pada salah satu perjalanannya, ia sampai di Mekah dan mendapatkan bahwa putranya tidak ada di rumah. Waktu itu, Isma'il telah tumbuh menjadi lelaki dewasa dan telah kawin dengan seorang gadis suku Jarham. Ibrahim bertanya kepada istri Ismai'l, "Di mana suamimu?" Perempuan itu menjawab, "Ia telah keluar untuk berburu!" Kemudian Ibrahim bertanya kepadanya apakah ia mempunyai makanan. Ia menjawab tak ada.

Ibrahim sangat sedih melihat kekasaran istri putranya. Ia lalu berkata kepada menantunya itu, "Bila Isma'il pulang, sampaikan kepadanya salam saya, dan katakan pula kepadanya untuk mengganti ambang pintu rumahnya." Kemudian Ibrahim pergi. Ketika kembali, Isma'il mencium bau ayahnya. Dari keterangan istrinya, ia menyadari bahwa orang yang telah mengunjungi rumahnya adalah memang ayahnya. Ia juga mengerti bahwa pesan yang ditinggalkan ayahnya berati bahwa beliau (Ibrahim) menghendakinya menceraikan istrinya sekarang dan menggantikannya dengan yang lain, karena beliau memandang istrinya yang sekarang tidak pantas menjadi kawan hidupnya.(lihat Bihar al-Anwar, hal. 112, sebagaimana dikutip dari Qishash al-Anbiya')

Mungkin dapat dipertanyakan mengapa setelah melakukan perjalanan sejauh itu, Ibrahim tidak menunggu sampai putranya pulang dari berburu, tapi langsung pergi lagi tanpa melihatnya. Para sejarawan menerangkan bahwa Ibrahim pulang dengan tergesa-gesa karena telah berjanji kepada Sarah bahwa beliau tak akan tinggal lama di sana. Setelah perjalanan ini, ia juga diperintahkan Allah Yang Mahakuasa untuk melaksanakan suatu perjalanan lagi ke Mekah, untuk mendirikan Ka'bah guna menarik hati orang yang beriman tauhid Al-Qur'an menyatakan bahwa menjelang hari-hari terakhir Ibrahim, Mekah telah tumbuh menjadi sebuah kota, karena, setelah menyelesaikan tugasnya, ia berdoa kepada Allah, "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala." (QS Ibrahim, 14:35). Dan ketika tiba di gurun Mekah, ia berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa." (QS al-Baqarah, 2:126).
--------------------------------
oleh Ja'far Subhani, hal. 50 - 69
Judul buku: AR-RISALAH
Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW

Selengkapnya...