• Bersama Peserta LK III Sulselbar dari Berbagai Cabang di Indonesia
  • Peserta LK II Bersama Kakanda Ir. H. Abd. Kahar Muzakkar (Anggota DPD RI)
  • Peserta LK II HMI Cab.Makassar Timur dari Berbagai Cabang diIndonesia
  • Peserta LK I Bersama Pengurus Komisariat Periode 2011-2012
  • Kohati HMI Cab. Makassar Timur Bersama Kakanda Akbar Tandjung
  • Peserta LK II HMI Cab. Makassar Timur Bersama Fadly Zon (Sekjen Partai Gerindra)
  • Kohati HMI Cab. Makassar Timur Bersama Fadly Zon (Sekjen Partai Gerindra)
  • Angkatan I HMI Kom. Stikes NHM Bersama Kanda Ryza Fardiansyah (Ketum HMI Cab. Makassar Timur Periode 2010-2011)
  • Peserta Gender Camp dari Berbagai Komisariat Sejajaran Makassar Timur yang diadakan di Ta'deang Maros
  • Peserta LK II HMI Cab.Makassar Timur dari Bersama Kakanda Akbar Tandjung

Senin, 06 Februari 2012

Refleksi 65 Tahun HMI; Menggugat Efektivitas Organisasi Mahasiswa

Sekitar 65 tahun yang silam, di Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia atau UII) Yogyakarta, seorang pemuda bernama Lafran Pane, mahasiswa tingkat I UII Ia mengadakan pembicaraan dengan teman-temannya mengenai gagasan membentuk organisasi mahasiswa bernafaskan Islam dan setelah mendapatkan cukup dukungan. Pada November 1946, ia mengundang para mahasiswa Islam yang berada di Yogyakarta baik di Sekolah Tinggi Islam, Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada dan Sekolah Teknik Tinggi, untuk menghadiri rapat, guna membicarakan maksud tersebut.

Rapat-rapat ini dihadiri kurang lebih 30 orang mahasiswa yang di antaranya adalah anggota Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia. Rapat-rapat yang digelar tidak menghasilkan kesepakatan. Namun Lafran Pane mengambil jalan keluar dengan mengadakan rapat tanpa undangan, yaitu dengan mengadakan pertemuan mendadak yang mempergunakan jam kuliah Tafsir oleh Husein Yahya.

Pada 5 Februari 1947 (bertepatan dengan 14 Rabiulawal 1366 H), di salah satu ruangan kuliah Sekolah Tinggi Islam di Jalan Setyodiningratan 30 (sekarang Jalan Senopati) Yogyakarta, masuklah Lafran Pane yang langsung berdiri di depan kelas dan memimpin rapat yang dalam prakatanya mengatakan¡: "Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena semua persiapan yang diperlukan sudah beres". Sejak itu resmilah berdiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tidak terasa, organisasi ini sekarang telah berusia 65 tahun.

Mungkin terlalu panjang untuk mendeskripsikan peran HMI dalam percaturan politik dan gerakan mahasiswa di Indonesia. Tiap masa dan rentang waktu pergantian elite kekuasaan, HMI selalu menempatkan diri sebagai bagian dari proses tersebut. Sebagai organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, HMI tak punya pilihan lain, ia harus sedemikian rupa menunjukkan kalau dirinya bersih, terhormat, dan bermoral tinggi. Bahwa HMI tidak pernah mengajarkan kader-kadernya untuk jadi penjahat, maling, koruptor, dan sejenisnya. Hal ini penting agar HMI tidak mengalami meminjam Francis Fukuyama the end of history. 

Tentu saja dalam usia seperti itu terlalu banyak harapan yang dibebankan kepada HMI. Hal yang lumrah kemudian jika Jenderal Soedirman menyebut HMI sebagai "Harapan Masyarakat Indonesia" meski Nurcholis Madjid (Cak Nur) pernah berkata bahwa HMI turut menghancurkan dan memperpuruk kehidupan bangsa. Tiga inti yang selalu diperkuat oleh HMI adalah penguatan internal organisasi, perkaderan, dan penyikapan terhadap realitas keumatan. Rumusan ini kemudian diperkuat dengan pengejewantahan Nilai Identitas Kader (NIK) atau Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang pernah dicetuskan Nurcholis Madjid.
Di dalam buku Ansor Harahap berjudul Melawan Tirani Lokal (2011), pada pengantar editornya saya menulis bahwa pasca-reformasi 1998, gerakan mahasiswa mengalami sebuah situasi yang menyakitkan karena tersesat dalam belantara hitam bernama kepentingan. Ini sangat jelas terlihat dan dibaca tentang masih amburadulnya konsolidasi gerakan mahasiswa. 

Gerakan mahasiswa tahap selanjutnya mengalami krisis identitas. Perbedaan visi yang muncul pada gerakan mahasiswa seringkali mengarah pada persoalan friksi-friksi yang sifatnya teknis. Kenyataan demikian menyebabkan friksi-friksi gerakan mahasiswa kehilangan arah dan bentuk.

Hedonisme Sesaat
Dinamika gerakan mahasiswa pun saat sekarang lebih banyak berada pada ruang hedonisme sesaat. Maka tidak jarang, organisasi kemahasiswaan di bidang olahraga, kesenian, minat dan bakat, lebih mendapat tempat daripada organisasi mahasiswa yang cenderung dinilai bersifat politik praktis. Birokrasi kampus juga lebih memberi ruang kepada organisasi mahasiswa dengan spesifikasi minat dan bakat tersebut sambil berharap tidak ada riak yang terjadi di kampus.

Ada beberapa catatan penting yang bisa dilihat dari kondisi ini yakni terputusnya komunikasi sistemik antara generasi pasca-1998 dan seniornya, khususnya Angkatan 1998. Kaderisasi aktivis berlangsung sporadis dan umumnya intra kampus.Yang menggelitik, pasca-1998 kiprah organisasi mahasiswa ekstra kampus (HMI, PMKRI, GMNI, PMII) nyaris tak terdengar. Gerakan mahasiswa juga telah terjadi perubahan minat. Patut dipertanyakan, sejauh mana kemudahan akses informasi melalui ponsel dan internet dengan area hotspot di kampus-kampus mendorong terbentuknya jaringan komunitas yang menjadikan idealisme kerakyatan sebagai basis gerakan.

Adanya pandangan bahwa "musuh bersama" gerakan mahasiswa harus berbentuk rezim politik. Adalah keberuntungan sejarah bahwa akibat tekanan rezim politik, generasi 1908 hingga 1998 melahirkan monumen-monumen besar perjuangan mahasiswa. Namun, setiap zaman melahirkan aktivis melalui pemaknaan zeitgeist (jiwa zaman). Pasca-1998, gizi buruk, jeleknya layanan kesehatan dan fasilitas pendidikan, bahaya korupsi, tingginya pengangguran terdidik, dan aneka persoalan lingkungan tetap merupakan tantangan yang layak dijadikan "musuh bersama" gerakan mahasiswa.

Di dalam realitas sakit itu, HMI yang telah berusia 65 tahun harus lebih berperan jauh dalam usaha perbaikan kondisi keumatan secara gradual. Meski dianggap penting dan utama, mungkin pola gerakan HMI tidak lagi harus semata-mata berpedoman kepada proses kaderisasi saja. Pola kaderisasi semestinya tidak berhenti pada kuantitas tanpa mengukir kualitas gerakannya. 

Disini HMI seharusnya sudah sepatutnya bercermin kepada semangat radikalisme gerakan mahasiswa yang kini cenderung terpolarisasi dalam kelompok dan aliran. Radikalisme bukan diartikan pada tataran anarkisme seperti yang kerap terlihat dalam gerakan mahasiswa. Karena pada aspek ini, HMI tentu tidak akan mau tergerus di dalam peradaban yang sumbang. Peradaban yang harus diraih HMI adalah intelektualitas.Sigmund Freud berkata "peradaban dimulai ketika seorang yang marah, melontarkan kata-kata daripada melempar batu". HMI sekarang berada dalam pola gerakan mahasiswa yang tidak pernah sampai kepada tujuan akhir. Meminjam tulisan Daniel Dhakidae di Prisma, gerakan mahasiswa ibarat ombak yang tidak pernah berhasil mencapai pantai. Gerakan itu pecah berkeping-keping, melewati batu-batu karang atau pasir-pasir penghalang gerakan mereka"Lantas apa yang dapat diperbuat HMI di usianya 65 tahun ini? Jika mencermati pola gerakan secara nasional, tentu saja tantangan HMI begitu besar. Tantangan yang di depan mata setiap saat adalah lunturnya kepercayaan mahasiswa kepada HMI. Sudah jadi rahasia umum misalnya di beberapa kampus ternama di Jawa, gerakan HMI telah terpinggirkan. Kepercayaan mahasiswa perlahan namun pasti mulai memudar.

Seiring dengan itu, beberapa contoh kasus alumni HMI yang tersangkut hukum kemudian dijadikan senjata empuk untuk menghindar dari organisasi ini. Apalagi kita pahami bersama bahwa saat sekarang, relasi mahasiswa dengan lingkungannya juga semakin berubah. Kelompok diskusi mahasiswa tidak lagi terfokus kepada problem kemiskinan, ketidakadilan dan demokrasi, melainkan menuju gerakan dakwah atau keagamaan. Realitas ini sangat jamak kita temukan di kampus-kampus negeri, tidak terkecuali di Sumatera Utara.Sejatinya memang sulit untuk menafikan bahwa alumni HMI sangat berperan besar dalam proses politik di Indonesia ini. Bahkan semacam pembenaran bahwa riuh rendah politik di tanah air semata-mata karena peran kader-kader HMI di institusi negara tersebut. Tentu saja bukan karena alasan itu makanya alumni HMI berhimpun dalam wadah Korps Alumni HMI (Kahmi).
Semua realitas yang bertajuk HMI tidak berhenti pada mahasiswa, tetapi telah masuk ke wilayah negara dan bangsa. Akankah di usianya yang 65 tahun ini, HMI masih menafikan semua fakta tersebut? HMI boleh yakin usaha sampai, akan tetapi semuanya harus diperbarui dengan memantapkan kualitas kadernya. Selamad milad HMI ke-65.
Selengkapnya...

Kamis, 02 Februari 2012

Ahmadinejad ; Presiden tanpa Gaji


Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:

"Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"
Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."

Berikut adalah gambaran Ahmadinejad yang belum tentu orang ketahui, dan pasti yang membuat orang ternganga dan terheran-heran :

1.Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

Image


2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.

Image

3.Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya. 

4.Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhanadan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.






5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977,

Image


sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran.Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

5.Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya.
Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan.
Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.

Image


9. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka

Image

10.Bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa

Image




11. Baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar Yaitu Menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh. Berikut dokumentasi pernikahan Putra Seorang Presiden.

Image

Image

Perhatikan makanannya yaitu buah2an - pisang, jeruk dan buah pear

Image

Image

12.sebegitu sederhanakah dia? Ia juga tidak mau bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya, cukup menundukan kepala sebagai rasa hormat


tImage

===========================
Saya pernah membaca buku berjudul Ahmadinejad David Di Tengah Angkara Goliath Dunia. Buku yang menarik, menggambarkan salah satu orang yang berani dan tegas melawan kekuatan barat. Barusan juga nonton Biografi Mahmoud Ahmadinejad di Metro TV.

Tidak jauh berbeda dengan buku di atas, Mahmoud Ahmadinejad merupakan putra seorang pandai besi. Seseorang yang tidak terkenal, bukan tokoh ulama, juga bukan tokoh politik di negara Iran. Ahmadinejad kecil tumbuh layaknya seorang remaja di usianya. Dikenal sebagai penggemar sepakbola dan jago bermain sepakbola. Dia juga pintar matematika. Selain itu Ahmadinejad terkenal memiliki suara yang bagus, seperti saat membaca Al-Quran maupun pidato.

Tidak ada yang mengira Mahmoud Ahmadinejad dapat terpilih menjadi Presiden Iran, karena 6 kandidat presiden lainnya merupakan tokoh ulama atau tokoh politik yang memiliki sumber dana besar. Ahmadinejad terpilih karena rakyat menyukai gaya dan sifatnya yang sederhana. Saat menjabat Walikota Teheran, kemana-mana selalu menyetir sendiri, tetap tinggal di rumah susunnya, membersihkan lingkungannya sendiri, suka mengamati sendiri setiap sudut kota dan lain-lain.

Sifatnya yang sederhana ini masih terlihat saat Ahmadinejad terpilih menjadi Presiden. Karpet-karpet merah persia mahal dikeluarkan semua dari istana, menolak mobil limosine dan tetap setia menggunakan mobil tuanya serta tetap tinggal di rumah susunnya.

Selain sifatnya yang sederhana ia dicintai karena lebih mementingkan memperbaiki ekonomi negara ketimbang bidang-bidang lain dan memperjuangkan setiap pendapatan minyak bumi agar jatuh ke meja makan rakyat Iran.

''Saya tidak akan berhenti hingga semua rakyat biasa di Iran dapat makan.'' (Ahmadinejad)

Dalam menghadapi tekanan barat pun Ahmadinejad berani dan tegas.

''Anda yang menciptakan dan menggunakan senjata biologis saat perang Irak-Iran. Anda yang menggunakan peluru ber-uranium. Apa hak Anda melarang kami (Iran) mengembangkan teknologi nuklir untuk energi dan perdamaian. (Ahmadinejad)''


Suatu ketika Ahmadinejad mendapat pertanyaan dari wartawan Jepang :
“Tuan Presiden, kenapa Anda masih mempertahankan pengembangan teknologi nuklir yang mengancam perdamaian dunia ?
''Anda seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan kami (Iran), Anda harusnya lebih khawatir kepada negara yang pernah menjatuhkan bom nuklir ke negara Anda, jawab Ahmadinejad”

Kesederhanaan, pengabdian tulus pada negara dan keberanian dalam menghadapi tekanan barat membuat Mahmoud Ahmadinejad makin dicintai rakyatnya (jangankan rakyat Iran, saya aja rakyat Indonesia suka sama pemimpin yg begini). Sebagai warga negara, saya juga berharap dipimpin oleh pemimpin dengan figur seperti Mahmoud Ahmadinejad.

Salah satu kata-katanya saat menjadi pembicara di Columbia University AS berkaitan dengan program nuklirnya adalah:
“Kami ingin mempunyai hak untuk menentukan nasib kami sendiri di masa depan. Kami ingin independen. Jangan mengintervensi kami. Jika kalian tidak memberikan kepada kami suku cadang pesawat terbang sipil, mengapa kami harus berharap bahwa kalian akan memberikan kepada kami bahan bakar untuk pengembangan nuklir demi tujuan-tujuan damai?”.

Dilain kesempatan, beliau juga pernah mengatakan :
“Program nuklir kami ditentang oleh negara yang setiap bulannya membangun 10 reaktor nuklir. Kalau memang energi nuklir berbahaya, mengapa mereka masih memilikinya? Dan kalau memang energi nuklir membawa begitu banyak kebaikan, mengapa kami tidak boleh memilikinya?”
Selengkapnya...

Minggu, 01 Januari 2012

Akbar Tandjung ; Dekadensi HMI dalam Konteks Kekinian

       Sebagaimana kita ketahui, HMI merupakan organisasi kemahasiswaan yang bernafaskan Islam dan bersifat independen. Dan sejak kelahirannya hingga kini telah mampu menunjukkan kiprahnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun demikian, seiring dengan dinamika sejarah bangsa Indonesia, adakalnya HMI mengalami fase pasang naik dan pasang surut.akan tetapi bagaimanapun HMI telah memberikan peran dan andil tersendiri, dalam  perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, dari mulai kelahirannya hingga kini.

         Pada kegiatan Intermediate Training HMI Cabang Makassar Timur hadir Kakanda Akbar Tandjung sebagai pemateri “Dekadensi HMI dalam konteks kekinian” dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa permasalahan besar dan serius melanda HMI saat ini adalah mengapa HMI mundur dan memudar, salah satu alasannya adalah ketidak konsistenannya kader-kader HMI dalam mengaktualisasikan nilai-nilai suci HMI (NDP).”Salah satu jalan yang harus ditempuh  adalah perubahan pola pemikiran kader HMI yang sesuai dengan Nilai Dasar Perjuangan sebagai khitah HMI, perubahan sistem pengkaderan dan bisa menterjemahkan (menjabarkan) nilai-nilai normatif Islam menjadi konsep-konsep operasional disegala aspek kehidupan manusia (bidang budaya, ekonomi, politik, iptek)”, lanjut beliau.  

Gambar 01. Akbar Tanjung dalam pemaparan materinya
         Demikian pula kita dapat pahami bersama, HMI pun dihadapkan pada permasalahan internal sedemikian rupa di era orde baru.Pada tanggal 15 maret 1986, muncul HMI Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang menggunakan asas pancasila sebagai satu-satunya asas.Inilah pertama kali dalam sejarah, HMI mengalami perpecahan internal. Kita patut menyayangkan perpecahan di tubuh HMI tersebut, dan mengharapkan kejadian tersebut tidak terulang, dan hanya ada satu HMI, yakni HMI yang lahir di Yogyakarta pada 5 februari 1947 atas prakarsa Lafran Pane.Kini, HMI telah menggunakan asas Islam sehingga seharusnya tidak ada lagi alasan untuk tidak bersatu. Sebagai implikasi atas dinamika internal pula, 2 periode kepengurusan PB HMI yang terakhir mengalami konflik internal.Kita merasa amat prihatin dengan kondisi Pengurus Besar (PB) HMI yang telah 2 kali mengalami perpecahan sehingga menimbulkan dualisme kepengurusan.Bagaimana HMI akan mampu dipandang khalayak sebagai organisasi yang berwibawa dan kuat, apabila tradisi perpecahan menguat ? Bagaimanapun HMI harus tetap eksis dan kuat, sehingga diharapkan mampu memberikan kemaslahatan bagi ummat dan bangsa.Oleh karenanya tradisi perpecahan di tubuh HMI harus dihentikan.      
Selengkapnya...

Kamis, 08 Desember 2011

Menanti Aksi Abraham Samad

Abraham Samad,Ketua KPK 2011-2015
 Tak ada yang mengira kalau Abraham Samad dipilih Komisi III DPR jadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengalahkan nama-nama tenar seperti Bambang Widjojanto, Yunus Husein maupun ketua lama, Busyro Maqoddas.Bukan hanya masyarakat yang terkejut, Pansel Pemilihan juga gusar. Bahkan salah seorang anggota Pansel, Saldi Isra, sampai ngoceh di media, merasa tak pas dengan pilihan DPR. Maklumlah, dua nama yang digadang-gadang paling pantas memimpin KPK adalah Bambang Widjojanto –yang sepak-terjangnya sudah dikenal— atau Yunus Husein yang dekat dengan istana. Abraham selama ini “hanya” berkutat dalam persoalan hukum –termasuk pemberantasan korupsi—Makassar (dengan mendirikan Anti Corruption Commitee [ACC]), dianggap tak memiliki “prestasi” dan rekam jejak di atas orang-orang yang dikalahkannya.

            Pendek kata, prestasi Abraham hanya “kelas daerah”, dan tak punya pengalaman berkiprah di tingkat nasional. Ada polarisasi pusat-daerah, tapi DPR tetap yakin pada pilihannya: anak muda pantas memimpin KPK.  Belakangan muncul tudingan dari beberapa LSM yang mengatakan Abraham bisa dikendalikan, baik pemerintah maupun DPR. Jelas, in tak punya dasar. Tapi di luar persoalan itu, tugas Abraham dan KPK –juga para komisioner terpilih—  memang sangat berat. Tugas pertama yang dibebankan adalah menuntaskan kasus aliran dana Century yang akhir-akhir ini hampir tak terdengar beritanya. Abraham diberi waktu 100 hari dan seperti janjinya dalam uji kelayakan di depan Komisi III DPR, dia akan mundur jika tak bisa menyelesaikan kasus ini.
           
Sudah terbukti, KPK saat dipimpin Antasari Azhar maupun Busryo, juga tak mampu menyelesaikan kasus ini karena ada “kekuatan besar” yang tak bisa dilawan.Kasus lain yang tak kalah menarik adalah fenomena banyaknya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di daerah yang memutus bebas beberapa terdakwa korupsi yang merupakan tangkapan KPK. Pengadilan Tipikor Surabaya, Bandung, dan terakhir Pontianak telah “membebaskan” para koruptor dari dakwaan jaksa. Ini tamparan keras bagi KPK, karena sebelum ini —dengan cara kerja yang sangat teliti— hampir semua tangkapan KPK tak ada yang lolos dari jeratan hukum.Kemudian muncul wacana pembubaran Pengadilan Tipikor daerah, yang segera jadi kontroversi. Masih banyak lagi persoalan besar yang harus diurus KPK di bawah Abraham. Apa dengan pengalaman yang hanya berkutat di “daerah”, seorang Abraham yang jelas secara pengalaman dan usia masih yunior dibanding para deputinya, mampu tampil menembus tembok besar yang pasti akan menghadang, atau melawan kekuasaan yang luar biasa kuat, atau mafia hukum yang berkeliaran yang bahkan mungkin ada di kantornya. Integritas dan kejujuran saja tak cukup untuk tampil di panggung hukum yang lebih besar ini, karena di sana juga perlu keberanian, kecerdasan, ketegasan, tahan banting, siap menghadapi siapa saja, bahkan lingkaran istana sekalipun.

            Mampukah? Ini yang kita tunggu. Jika dia gagal, cap sebagai “orang daerah” dan polarisasi pusat-daerah tetap jadi garis api yang sulit ditembus. Tapi jika berhasil, stigma bahwa orang daerah tak pantas dapat panggung lebih besar, bisa ditepis. Kita pernah punya pendekar hukum yang juga dari Makassar, Baharuddin Lopa, yang tak pernah takut pada siapapun. Mampukah Abraham jadi “Lopa” baru? Kita tunggu.
Selengkapnya...

Minggu, 27 November 2011

Revolusioner Si Tan Malaka



           Tan Malaka-lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka-menurut keturunannya ia termasuk suku bangsa Minangkabau.Pada tanggal 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang-Sumatera Barat-Tan Malaka dilahirkan.Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang memebawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain.
Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Syarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran (hobby) mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum kromo (lemah/miskin). Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskow diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang saangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso. Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digul Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibukota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925. Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”
Ciri khas gagasan Tan Malaka adalah: (1) Dibentuk dengan cara berpikir ilmiah berdasarkan ilmu bukti, (2) Bersifat Indonesia sentris, (3) Futuristik dan (4) Mandiri, konsekwen serta konsisten. Tan Malaka menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam sekitar 27 buku, brosur dan ratusan artikel di berbagai surat kabar terbitan Hindia Belanda. Karya besarnya “MADILOG” mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara “Text book thinking”, atau bukan dogmatis dan bukan doktriner.

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka danpermasalahannya dimulai dengan Indonesia. Konkritnya rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang “text book thinking” dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dicetuskan sejak tahun 1925 lewat “Naar de Republiek Indonesia”.

Jika kita membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (“Gerpolek”-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan kita temukan benang putih keilmiahan dan keIndonesiaan serta benang merah kemandirian, sikap konsekwen dan konsisten yang direnda jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangan implementasinya.

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi republik Indonesia akibat Perjanjian Linggarjati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta. Dan pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka gugur, hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan “Gerilya Pembela Proklamasi” di Pethok, Kediri, Jawa Timur.

Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Sukarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Selengkapnya...

Rabu, 23 November 2011

Epistimologi Kiri Sebagai Gagasan Besar yang Menantang Sekaligus Melawan


Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari istilah “kiri” dan memang seharusnya istilah tersebut menjadi sangat amat biasa dalam setiap perbincangan. Tapi bukan hanya sebatas perbincangan saja, terminology tersebut menjadi sangat tidak biasa atau luar biasa di saat istilah tersebut diendapkan pada dimensi pemikiran. Istilah kiri mentimpan sejumlah gagasan besar yang menantang, melawan, merusak setiap tradisi yang dianggap “mapan” dan istilah kiri juaga memainkan peran signifikan atas munculnya ide-ide besar yang merubah keadaan.

Pada sudut pandang sejarah, terminology “kiri” sering dialamatkan pada pemikiran dan gerakan social yang berusaha melakuka dikte atau pembacaan ulang atas situasi-situasi mapan atau yang dimapankan oleh kekuasaan dan kekuatan dominan. Terminology “kiri” juga sering menjadi hantu ketika ia di labelkan pada setiap pemikiran dan gerakan social yang mengusung symbol-simbol revolusi sebagaimana sosialisme, marxisme dan komunisme. Bahakan dalam ruang kesadaran manusia sampai saat ini, “stigmatisasi” terminology kiri sedah melembaga. Terlebih ketika terminology kiri tersebut dikonveksikan pada keadaan dimana terdapat luka sejarah. Misalkan Indonesia, keadaan masyarakat Indonesia pernah disesaki oleh ide-ide membumihanguskan segala hal yang baunya “kiri”.



Masih segar dalam ingatan kita tanggal 19 April 2001 lalu, di Negeri ini terjadi pembakaran dan aksi sweeping atas buku-buku yang dianggap berbau kiri dn kekiri-kirian. Yang menjadi masalah, aksi tersebut difokuskan pada eberapa jenis buku yang berintikan sejumlah besar gagasan Marxisme atau yang dianggap mengganggu kemapanan kekuasaan pengetahuan dominan. Yang menggelikan adalah perlawanana atas pemikiran tersebut harus digerakkan secara naïf dengan membakar dan membumihanguskan pemikirannya (bukunya), bukan engan melawan melalui pelemparan gagasan-gagasan lain. Tindakan ini dapat dikatakan sebagai tindakan fisik untuk membungkan pikiran yang tidak mampu dilawan dengan pikiran. Fenomena tersebut menunjukkan minimnya pengetahuan masyarakat atas berbagai bentuk dan model pemikiran dan dapat juga menjadi sebuah fakta bahwa ada kesalahan fatal dalam pemahaman masyarakat atas terminology “kiri”.

Apakah selama ini masyarakat Indonesia terjebak pada konstruksi kesadaran yang salah kaprah…??? Bahwa hasil pemikiran yang “berbeda” dengan arus utama (mainstream) yang bertempang pada saat yang bersangkutan selalu sianggap sebagai model pemikiran “kiri”. Dan lebih parah, “kiri” selalu identik dengan komunisme, “kiri” selalu identik dengan kaum tak ber-Tuhan. Padahal, wacana pemikiran “kiri” adalah pemikiran dan gerakan social yang senantiasa melawan, mengkritik dan memang terkadang terkesan nakal yang bertujuan menghancurkan segala hal yang berbau “kemapanan” kekuasaan otoriter dan kapitalisme modern. Bisa saja kemapanan (termasuk kemapanan pengetahuan) memuat seperangkat prinsip yang manipulative untuk sekedar mempertahankan kemapanan tersebut. Dalam “stigmatisasi” dan vandalism dunia pemikiran kita-kita menyebutkan pembongkaran atas situasi mapan dari sebuah kekuasaan inilah yang menjadi spirit utama pergerakan kiri terutama pembongkaran atas berbagai kekuasaan yang berlindung di balik jubah dan topeng ideology-ideologi.

Jika ditinjau dari perspektif epistemology, pemikiran dan gerakan kiri sesungguhnya lebih diletakkan pada pembacaan ulang secara kritis atas berbagai bentuk pengetahuan yang dominan, yang kemudian diperlakukan sebagai satu-satunya kebenaran. Ketika sebuah pengetahuan ditampilkan sebagai kebenaran utama, maka ia cenderung diperlakukan sebagai kebenaran satu-satunya dan bahkan kebenaran absolute.

Yang mengerikan adalah pada saat bersamaan kebenaran utama itu akan meminggirkan realitas kebenaran yang lain. Setiap yang berbeda dengan pemahaman konstruksi pengetahuan yang dimilikinya merupakan sebuah kesalahan.

Karena itulah perspektif “kiri” dalam konteks ini sekedar membongkar asumsi dasar epistemologis penyusunan sebuah pengetahuan. Apa jangan-jangan setiap kemapanan pengetahuan sesungguhnya hanya tersembunyi berbagai kepentingan-kepentingan ideologis dan juga manipulasi atas kebenaran…??? Keberhasilan pembongkaran tidak saja akan meruntuhkan pilar-pilar yang menyusun sebuah pengetahuan, tetapi ia juga akan menjadi kekuatan efektif untuk mengubah keadaan-keadaan formal yang manipulative…!!!

Selengkapnya...

Selasa, 15 November 2011

Sekilas Mengenai Korps-HMI-wati


Betty Epsilon Idroos,
Ketua Kohati PB HMI periode 2006-2008



KOHATI adalah singkatan dari Korp HMI-wati, yang merupakan salah satu badan khusus HMI yang bertugas membina, mengembangkan dan meningkatkan potensi HMI-wati dalam wacana dan dinamika gerakan keperempuanan. KOHATI didirikan pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H, bertepatan dengan tanggal 17 September 1966 pada Kongres HMI ke-8 di Solo. Secara detail mengenai kelembagaan ini dapat dilihat dalam folder PDK (Pedoman Dasar Kekohatian).

KOHATI sebagai salah satu badan khusus yang ada di HMI (pasal ‘57’ ART HMI) memiliki bidang kerja yang sangat khusus dan visioner, yakni keperempuanan. Bicara mengenai perempuan bukanlah hal yang terdengar asing di lingkungan kita, apalagi di kalangan aktivis dan juga sebagai mahasiswa. Pembicaraan mengenai perempuan itu tidak jauh dari seputar fisik perempuan, peran perempuan–publik dan domestik, tenaga kerja perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, dan segala isu lain yang menyangkut perempuan. Memang terdengar menjadi begitu spesialnya makhluk yang bernama perempuan ini, sehingga banyak didiskusikan di berbagai kalangan di berbagai tempat. Dan HMI, sebagai organisasi mahasiswa pertama di Indonesia juga harus berstrategi untuk mengembangkan misinya dalam bidang keperempuanan ini.

Sebagai organisasi kader, misi HMI dapat ‘dibantu’ dikembangkan dalam bidang keperempuanan. Namun perubahan yang mendasar dapat dilakukan dalam suatu wadah pengembangan organisasi, yang di HMI disebut dengan KOHATI. Eksistensi KOHATI menjadi satu hal yang sangat penting, karena ia menjadi “laboratorium hidup” dalam menghasilkan HMIWati yang berkualitas menghadapi masa depan. Kualitas yang dihasilkan adalah kualitas terbaik sebagai seorang putri terhadap orang tuanya, seorang ibu bagi anak-anaknya, seorang istri bagi suaminya kelak, serta menjadi seorang anggota masyarakat.

Adalah suatu hal naif bila dikatakan eksistensinya menjadi kehilangan makna. Di kelompok manapun, suatu kelembagaan berdasarkan segragasi seks niscaya diperlukan. KOHATI (Korp HMI Wati) sebagai sebuah lembaga keperempuanan yang ada di Himpunan Mahasiswa Islam tentulah juga memiliki peran penting dalam pergerakan perempuan di Indonesia. Sejak didirikannya pada tanggal 17 September 1966, peranannya dirasakan bukan hanya di lingkungan internal organisasi, namun pula masyarakat secara keseluruhan.

Sebagai lembaga perkaderan, KOHATI sesungguhnya memiliki tujuan yang mulia, yakni terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita. Berbagai dinamika perkembangan KOHATI dari periode ke periode menunjukkan karakter dan pencirian yang berbeda-beda. Misalnya saja dapat dilihat pada awal pembentukannya, terdapat tiga semangat yang melatarbelakangi lahirnya KOHATI ini, yakni eksistensi, aktualisasi serta akselerasi.

Eksistensi yang dimaksud adalah adanya suatu semangat dan kesadaran dari kaum hawa untuk dapat menjadi subjek dalam pembangunan bangsa. Sedangkan, aktualisasi bermaksud untuk menyatakan dalam tindakan nyata untuk mengadakan pembaharuan dan perbaikan dalam menghadapi tantangan zaman yang senantiasa berubah. Serta, akselerasi adalah semangat dalam melakukan percepatan peran sosiologis dan politis, yang ditunjukkan sebagai lembaga.

Tentulah sejak didirikan, KOHATI mengalami tantangan zaman yang luar biasa mempengaruhinya. Almarhum Anniswati secara luar biasa pula pernah menuliskan bahwa ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita bersama dengan keberadaan lembaga ini. Hal tersebut antara lain peningkatan kualitas KOHATI secara periodik dan kontinue di tingkat pusat, regional dan cabang; kepemimpinan KOHATI yang handal, kompak dan terdiri atas berbagai disiplin ilmu, adanya pemanfaatan para alumniwati di setiap periode bagi perkembangan KOHATI; adanya pembinaan langsung dari HMI; serta berbagai program tukar informasi. Dikatakan luar biasa karena keseluruhan yang disebutkan oleh beliau masih dirasakan sampai sekarang.


RELEVANSI KOHATI MASA KONTEMPORER

Sebuah thesis yang pernah dituliskan oleh seorang aktivis pergerakan perempuan, Shalah Qazan, di antaranya secara lantang, ia menuliskan bahwa suatu gagasan tanpa pergerakan akanlah lenyap dan terlupakan. Pergerakan tanpa mesin penggerak seperti suatu organisasi juga akan mati. Tentu kita juga sering mendengar sebuah pepatah yang amat terkait dengan thesis tersebut; suatu kebaikan yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh suatu keburukan yang terorganisir.

Demikian pula halnya dengan peranan KOHATI. Masyarakat di luar sana, baik secara lokal, nasional dan ataupun internasional banyak membahas berbagai isu tentang keperempuanan. Persoalan ini sudah menjadi persoalan setiap daerah, dan bahkan sampai menjadi isu internasional. HMI harus dapat merespons hal yang dimaksud.

Salah satu yang diperlukan dalam melakukan perubahan itu adalah perluasan networking. Hal tersebut memerlukan sisterhood yang kuat. Sebagai suatu lembaga semi otonom yang ada di HMI, atau sebagai lembaga sayap keperempuanan yang ada di HMI tentulah kita tidak ingin ketinggalan isu. Perlu ada suatu pembahasan khusus tentang isu tersebut yang tertuang dalam suatu kelembagaan yang terstruktur, dan KOHATI-lah lembaga yang dipunyai HMI. Karenanya, sekali lagi ditekankan, gagasan tanpa pergerakan akan mati. Kita adalah perempuan yang sarjana dan sarjana yang perempuan. We have to do something! Majulah Tabah HMI wati, Harapan Bangsa, Membina Masyarakat Islam Indonesia!

Selengkapnya...